Devisa Pariwisata Semester I 2026 Sentuh USD 8,43 Miliar, Naik dari Sepanjang 2025

Devisa Pariwisata Semester I 2026 Sentuh USD 8,43 Miliar, Naik dari Sepanjang 2025
Devisa Pariwisata Semester I 2026 Sentuh USD 8,43 Miliar, Naik dari Sepanjang 2025

SUARARAKYAT.CO — Sektor pariwisata Indonesia membukukan devisa USD 8,43 miliar atau setara Rp 150,15 triliun pada semester I 2026. Capaian itu melanjutkan tren positif setelah sepanjang 2025 devisa pariwisata tercatat USD 18,27 miliar dengan 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara.

Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menyampaikan capaian devisa USD 8,43 miliar tersebut di sela kegiatan wisuda Politeknik Pariwisata Makassar. Angka itu dihitung dengan kurs Rp 17.812 per dolar AS.

Menurut Ni Luh, posisi pariwisata masih menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional. Sektor ini juga berperan sebagai sumber devisa negara.

Perbandingan dengan Kinerja Sepanjang 2025

Sepanjang 2025, Indonesia mencatat 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara. Devisa pariwisata pada periode itu mencapai USD 18,27 miliar.

Selain kunjungan mancanegara, ada sekitar 1,2 miliar perjalanan wisatawan nusantara sepanjang tahun lalu. Angka ini menunjukkan mobilitas wisata domestik tetap besar.

Ni Luh menilai capaian semester I 2026 merupakan kelanjutan dari pertumbuhan positif tersebut. Menurut dia, tren ini sekaligus menjadi amanah bagi seluruh pemangku kepentingan pariwisata.

Fokus pada Kualitas, Bukan Sekadar Jumlah Kunjungan

Ni Luh menegaskan pengembangan pariwisata ke depan tidak lagi hanya mengejar jumlah kunjungan. Aspek kualitas dan keberlanjutan disebutnya sama penting.

"Pengembangan pariwisata masa depan tidak hanya berorientasi pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga kualitas dan keberlanjutan," ujarnya.

Pernyataan itu disampaikan di hadapan lulusan Politeknik Pariwisata Makassar. Acara wisuda menjadi forum bagi Kementerian Pariwisata untuk menekankan arah kebijakan sektor tersebut.

Posisi Pariwisata dalam Pertumbuhan Ekonomi

Ni Luh menyebut pariwisata sebagai sektor penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Kontribusi devisa menjadi indikator utama yang ia soroti.

"Pada semester pertama 2026, kontribusi devisa pariwisata telah mencapai USD 8,43 miliar. Ini menunjukkan sektor pariwisata terus menjadi salah satu penggerak penting pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus sumber devisa negara," kata Ni Luh.

Dengan capaian semester I yang sudah menembus USD 8,43 miliar, sektor ini berada di jalur untuk mengulang atau melampaui kinerja 2025. Pemerintah menyebut pengembangan berkualitas dan berkelanjutan sebagai kunci menjaga momentum tersebut.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index