Mengenal Perimenopause Sejak Dini: 6 Hal yang Perlu Ibu Tahu

Mengenal Perimenopause Sejak Dini: 6 Hal yang Perlu Ibu Tahu

SUARARAKYAT.CO — Gabrielle Union-Wade mengalami perimenopause di akhir usia 30-an, jauh lebih awal dibanding teman-temannya. Lewat pengalamannya, ia membagikan enam hal penting tentang menopause yang jarang dibicarakan, mulai dari gejala tak terduga hingga cara menjelaskannya ke anak.

Gejala itu pertama kali terdeteksi lewat pemeriksaan darah kesuburan. Sebelumnya, ia mengaku tidak pernah memikirkan menopause karena merasa masih punya banyak waktu.

1. Tanyakan soal perimenopause lebih awal

Union-Wade menyadari kondisi ini setelah hasil tes darah kesuburannya menunjukkan tanda-tanda perimenopause. Saat hot flash pertama muncul, rasanya berat dan jelas sekali.

Gejala lain mungkin terasa sepele tapi mengganggu, seperti rambut dagu yang tumbuh dalam semalam. Ia sampai menyimpan pinset di setiap mobilnya.

Nurse Barb, perawat spesialis kesehatan perempuan, menyarankan ibu segera bertanya ke tenaga medis jika merasa ada yang tidak beres. Gejala menopause tidak selalu muncul terang-terangan dan sering disalahartikan sebagai hal lain.

2. Hot flash datang tanpa peringatan

Hot flash tidak memberi tanda, hitungan mundur, atau cara keluar yang rapi. Di lokasi syuting, kondisi ini sulit dihindari karena waktu sangat berharga.

Kipas portabel dan kompres dingin sempat membantu meredakan gejalanya. Namun solusi sesungguhnya datang dari dokter setelah ia berkonsultasi soal pilihan pengobatan.

Setiap perempuan bisa merespons penanganan yang berbeda. Karena itu, Nurse Barb menekankan pentingnya berdiskusi dengan tenaga medis sebelum memilih produk atau terapi tertentu.

3. Jangan berhenti mencari dokter yang mendengarkan

Hot flash memang paling sering dibicarakan, tapi menopause membawa banyak gejala lain yang jarang disadari. Sayangnya, masih banyak perempuan yang keluhannya diabaikan tenaga medis.

Nurse Barb menyebut banyak perempuan merasa diremehkan saat membicarakan gejala menopause. Sebagian karena masih kurangnya tenaga kesehatan yang terlatih menangani kondisi ini.

Jika satu dokter belum membantu, tidak ada salahnya mencari pendapat kedua. Gejala menopause bisa ditangani dan layak untuk ditangani dengan serius.

4. Bicarakan dengan teman sesama ibu

Perempuan di usia 40-an ke atas biasanya punya grup obrolan yang rutin membahas keluhan perimenopause dan menopause. Ini berbeda dari generasi sebelumnya yang sering memendam masalahnya sendiri.

Union-Wade juga melakukannya. Ia kerap berbagi pengalaman di grup obrolannya dengan gaya santai, bukan menggurui.

Satu hal yang selalu ia tekankan ke teman-temannya: jangan menyalahkan diri sendiri. Menopause bukan pilihan, melainkan bagian dari biologi tubuh.

5. Biarkan anak melihat apa yang ibu alami

Union-Wade menjalani semua ini sambil mengasuh putrinya, Kaavia. Saat hot flash menyerang di rumah, sang anak datang membawa air es dan handuk sambil bertanya apa yang bisa dibantu.

Di rumah tangga yang ia bangun bersama Dwyane Wade, kondisi tubuh yang normal bukan hal yang disembunyikan. Kaavia diajarkan bertanya apa saja dan mendapat jawaban jujur sesuai usianya.

Ia belajar sikap terbuka itu dari ibunya sendiri. Anak-anak mengamati cara orang tua memperlakukan tubuh mereka jauh sebelum mereka punya kata-kata untuk menjelaskannya.

6. Ingat bahwa ibu tetap diri sendiri

Banyak orang bilang Union-Wade tidak "terlihat" seperti perempuan menopause, seolah ada satu bentuk seragam untuk fase ini. Ia menegaskan menopause tidak membuat perempuan jadi kurang menarik.

Menopause juga tidak membuat perempuan kurang cerdas, kurang diinginkan, atau kurang layak mendapat promosi. Ia menolak mengecil menjadi bayangan orang lain soal perempuan menopause.

Untuk teman yang sedang berjuang, ia selalu bilang: tidak sendirian, ini bukan akhir, melainkan awal baru. Saat kru syuting mengira panas tubuhnya adalah rasa takut, ia justru ingin menegaskan tidak ada yang perlu ditakuti.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index