SUARARAKYAT.CO — Bitcoin diperdagangkan di kisaran USD 76.500 setelah Wall Street dibuka, menyusul kenaikan suku bunga pertama The Fed sejak Juli 2023. Pasar saham AS berbalik menguat dan menyeret Bitcoin keluar dari tekanan jual yang sempat menekannya di bawah USD 76.000.
Bitcoin bertahan di sekitar level USD 76.500 pada perdagangan Kamis setelah bursa saham Amerika Serikat berbalik menghijau. Data TradingView menunjukkan volatilitas harga BTC mereda dalam 24 jam terakhir dengan pergerakan yang relatif tipis.
Pasar saham AS menjadi penopang suasana. Indeks S&P 500 naik 0,9 persen, sementara Nasdaq Composite yang sarat saham teknologi melesat 1,5 persen.
Kenaikan Suku Bunga The Fed Jadi Pemicu
The Fed memutuskan menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin ke rentang 3,75-4 persen pada Rabu. Ini menjadi kenaikan pertama sejak Juli 2023 dan menandai berakhirnya tiga tahun kebijakan pelonggaran, ketika bank sentral AS tersebut memangkas bunga atau menahannya di rentang yang sama.
Keputusan itu sempat menekan Bitcoin ke bawah USD 76.000. Pelaku pasar khawatir likuiditas bakal mengetat seiring naiknya biaya pinjaman.
Tekanan serupa datang dari bank sentral lain. Bank Sentral Eropa menaikkan bunga 0,25 persen pekan lalu, dan Bank of Japan diperkirakan menyusul pada Jumat.
Akun trading The Kobeissi Letter menilai aset tetap akan berkinerja kuat meski likuiditas berpotensi menyusut. "Ekonomi pemilik aset terus membaik," tulisnya di X, merujuk pada penguatan Nasdaq hari itu.
Likuiditas Menebal di Sekitar Harga Spot
Data CoinGlass memperlihatkan likuiditas beli dan jual sama-sama menebal di sekitar harga spot. Pola semacam ini lazim muncul saat pasar bergerak dalam rentang terbatas.
Bitcoin juga mendapat angin segar setelah menyentuh titik terendah bulan ini pada Selasa. Saat berita ini ditulis, BTC/USD diperdagangkan 0,5 persen lebih tinggi dibandingkan posisi sehari sebelumnya.
Platform analitik onchain CryptoQuant menyebut kondisi makro menjadi ganjalan bagi kelanjutan reli Bitcoin yang mencapai 25 persen pada Agustus.
"Trennya masih bullish, tetapi momentum dan makro melawannya dalam jangka pendek," ujar Kepala Riset CryptoQuant Julio Moreno dalam laporan mingguan yang dikirim ke Cointelegraph.
Indikator Bull Score Index milik CryptoQuant turun dari 80 ke 60. Angka 60 merupakan ambang batas bawah yang masih disebut sebagai kondisi bullish.
"Bitcoin sedang mendingin, bukan berbalik arah. Bull Score 60 menjaga tren tetap bullish, tetapi permintaan AS yang melemah, arus masuk altcoin yang naik, dan sepekan risiko makro — penundaan CLARITY Act dan kemungkinan kenaikan Fed — mendukung konsolidasi. Perhatikan USD 70.000 dan USD 62.000-65.000 sebagai support," ringkas laporan tersebut.
Yang Perlu Dicermati Investor
Pergerakan Bitcoin saat ini lebih didorong sentimen kebijakan moneter ketimbang faktor internal kripto. Arah suku bunga The Fed ke depan akan menjadi penentu apakah konsolidasi berlanjut atau berbalik jadi tren turun.
Bagi investor ritel, fase rangebound seperti ini biasanya disertai volatilitas yang lebih rendah. Namun risiko makro dari pengetatan global masih membayangi pasar aset digital secara keseluruhan.