SUARARAKYAT.CO — Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Volker Turk menyerukan pembukaan akses bagi penyelidik internasional ke seluruh wilayah Jalur Gaza. Seruan itu muncul setelah ratusan jenazah ditemukan di bawah reruntuhan bangunan, sementara otoritas Palestina memperkirakan masih ada ribuan jasad yang belum dievakuasi sejak agresi Israel dimulai Oktober 2023.
Turk menyoroti praktik militer Israel yang meratakan bekas reruntuhan tanpa mempertimbangkan keberadaan jasad di bawahnya. Menurut dia, kondisi itu berpotensi menghapus bukti dugaan pelanggaran hukum internasional.
Kekhawatiran atas Bukti yang Terus Hilang
Dalam pernyataannya, Turk menegaskan penemuan jenazah secara massal membuka kembali dugaan kejahatan perang. Ia menilai temuan sejauh ini baru sebagian kecil dari keseluruhan korban yang masih terkubur.
"Penemuan sisa-sisa jenazah yang luas di bawah reruntuhan di Kota Gaza memunculkan kembali kekhawatiran akan kejahatan perang dan kejahatan kekejaman lainnya. Saya khawatir sisa-sisa jenazah yang ditemukan sejauh ini mungkin hanya puncak gunung es," kata Turk.
Turk juga menyoroti penggunaan buldoser untuk meratakan area yang sebelumnya menjadi lokasi penempatan militer Israel. Ia menilai tindakan tersebut mengabaikan keberadaan jasad korban di bawah puing.
"Hari ini, banyak daerah di Gaza tempat militer Israel dikerahkan terus diratakan oleh buldoser tanpa menghormati orang mati di bawah reruntuhan," ujarnya.
Ribuan Jasad Belum Dievakuasi
Kantor HAM PBB menyatakan otoritas Palestina telah melaporkan masih ada ribuan jenazah yang terkubur di bawah reruntuhan bangunan. Proses evakuasi terkendala blokade Israel terhadap masuknya alat berat ke Gaza.
Tanpa peralatan memadai, tim penyelamat hanya bisa mengandalkan alat sederhana untuk mengangkat puing. Kondisi ini memperlambat identifikasi dan pemakaman korban.
Turk menegaskan kehadiran penyelidik internasional diperlukan untuk mengumpulkan bukti sebelum lokasi-lokasi penting hilang akibat perataan lahan. "Penyelidik internasional diberikan akses ke wilayah tersebut untuk membantu mengumpulkan bukti," ucapnya.
Pemakaman Massal 100 Jenazah di Zeitoun
Pada 6 September 2026, warga Palestina di Kota Gaza menggelar pemakaman massal sekitar 100 jenazah yang ditemukan dari reruntuhan. Sebanyak 60 di antaranya merupakan anak-anak.
Prosesi di daerah Zeitoun itu dihadiri ribuan warga, termasuk tokoh masyarakat dan politik. Peristiwa tersebut tercatat sebagai salah satu upacara pemakaman terbesar dalam sejarah Palestina.
Sebelumnya pada Agustus, pemakaman massal 112 jenazah juga digelar di lingkungan Sabra, Kota Gaza. Otoritas lokal menyebut korban yang dimakamkan pada 6 September berasal dari keluarga Rahim, Balawi, Malaka, Qanbour, dan Salmi, yang terbunuh sekitar 2,5 tahun lalu.
Keluarga Menanti Pemakaman Layak
Al-Aloul, salah satu warga yang keluarganya dimakamkan, mengaku telah lama menunggu kesempatan menguburkan kerabatnya secara layak. Menurut dia, pemakaman yang terhormat menjadi hal istimewa di Gaza karena tidak semua keluarga mendapat kesempatan serupa.
Ia menyebut jenazah yang dimakamkan tidak dalam kondisi lengkap. "Ini adalah sisa-sisa tulang dan sisa-sisa barang-barang yang mungkin telah ditemukan di mayat-mayat, terutama anak-anak," ucap Al-Aloul.
Seruan Turk menambah tekanan internasional agar Israel membuka akses kemanusiaan dan investigasi ke Gaza. Tanpa akses tersebut, jumlah korban yang masih tertimbun berisiko tetap tak terverifikasi.