Basarnas Dorong Optimalisasi EPIRB Perkuat Respons SAR Laut

Basarnas Dorong Optimalisasi EPIRB Perkuat Respons SAR Laut
Sejumlah Tim SAR gabungan menggunakan KN SAR 249 Permadi mencari bangkai KMP Mutiara Sentosa II [FOTO: NET].

JAKARTA - Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mendorong pengoptimalan pemanfaatan perangkat darurat Emergency Position Indicating Radio Beacon (EPIRB) serta pemantapan jalur komunikasi antar-armada kapal demi mendongkrak efektivitas operasi pencarian dan pertolongan (SAR) di wilayah perairan.

Mohammad Syafii menyampaikan bahwa kebijakan tersebut menjadi poin evaluasi mendasar bagi jajaran Basarnas seusai menangani rentetan musibah kecelakaan transportasi laut dalam beberapa waktu belakangan.

“Yang seharusnya bahwa EPIRB pada saat adanya kedaruratan itu diaktifkan akan mempermudah kami dalam pelaksanaan operasi,” kata Syafii dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI di Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Mohammad Syafii mengungkapkan bahwa pihak Basarnas masih mendapati pemanfaatan alat darurat EPIRB yang belum dioperasikan secara maksimal pada serangkaian peristiwa insiden laut yang mereka tangani.

Di samping ketersediaan perangkat darurat, Mohammad Syafii menilai koordinasi komunikasi dengan kapal-kapal yang tengah melintas di area sekitar tempat kejadian perkara amat krusial, mengingat Basarnas kerap menjumpai hambatan saat hendak berhubungan langsung dengan lalu lintas pelayaran.

Mohammad Syafii mencontohkan, pada saat proses penanggulangan insiden kebakaran yang menimpa KM Mutiara Sentosa II, Basarnas mengandalkan stasiun radio pantai beserta aplikasi e-broadcast milik Basarnas Command Center untuk memancarkan warta kedaruratan kepada kapal-kapal yang berada di sekitar area musibah.

“Konsep yang didorong Basarnas adalah membangun ekosistem pertolongan yang semakin responsif dengan memanfaatkan seluruh potensi yang tersedia di sekitar lokasi kejadian,” ujarnya.

Menurut penilaian Mohammad Syafii, dalam situasi krisis tertentu, armada kapal yang berada pada posisi terdekat dengan lokasi insiden dapat berperan sebagai tim penolong pertama sebelum armada SAR milik pemerintah tiba di area kejadian.

Sepanjang rentang Januari sampai 15 Agustus 2026, Basarnas mencatat telah menerjunkan tim pada 601 operasi SAR khusus musibah kecelakaan kapal yang melibatkan total 3.607 korban terdampak.

Dari keseluruhan figur tersebut, sebanyak 3.165 jiwa berhasil diselamatkan, 239 korban terkonfirmasi meninggal dunia, dan 203 orang dinyatakan hilang. Dari total keseluruhan korban, sebanyak 220 orang tercatat sebagai warga negara asing.

Mohammad Syafii menerangkan bahwa deretan pengerjaan operasi tersebut mencakup pelbagai variasi kondisi darurat yang ditangani Basarnas, mulai dari penanganan lambung kapal bocor sampai tindakan evakuasi medis darurat (medical evacuation).

Bukan sekadar penekanan pada alat EPIRB dan jaringan komunikasi, pihak Basarnas turut menyodorkan rekomendasi perihal pemantapan kelengkapan alat keselamatan, penyampaian instruksi keselamatan (safety briefing) bagi seluruh penumpang, hingga pergelaran latihan kedaruratan terpadu demi memperkuat kesiapsiagaan sewaktu musibah terjadi.

Jajaran Basarnas juga terus berupaya menggembleng kompetensi operasional agar sanggup menyajikan waktu tanggap (response time) yang kian presisi guna menjamin keselamatan warga masyarakat.

“Mudah-mudahan kami ke depan bisa meningkatkan kemampuan kami di Basarnas untuk bisa hadir dan juga memberikan response time yang terbaik untuk menjamin keselamatan,” ucap Syafii.

Di agenda rapat yang sama, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan bahwa langkah penguatan keselamatan pelayaran ditujukan untuk mencegah musibah kecelakaan, memberikan jaminan keselamatan penumpang beserta awak kapal, menjaga kelancaran alur lalu lintas pelayaran, serta menumbuhkan budaya keselamatan di laut.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index