JAKARTA - Kementerian Sosial bersama Bangladesh Rural Advancement Committee (BRAC) mengevaluasi berbagai langkah pengentasan kemiskinan agar lebih optimal, salah satunya melalui strategi graduasi penerima bansos, supaya Keluarga Penerima Manfaat (KPM) mampu mencapai kemandirian secara berkelanjutan.
Menurut Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, strategi pengentasan kemiskinan lewat bantuan sosial dan program pemberdayaan tidak berhenti pada penyaluran bantuan saja, melainkan harus dapat mendorong Keluarga Penerima Manfaat (KPM) mencapai kemandirian secara berkelanjutan.
“Kami diperintah oleh Presiden untuk mengentaskan kemiskinan. Jadi tugas Kemensos itu. Mau pakai Sekolah Rakyat, mau pakai bansos, mau pakai apa pun, tujuannya adalah pengentasan kemiskinan,” ujar Agus di Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Oleh sebab itu, Kemensos terus mengevaluasi berbagai hal yang menyebabkan upaya pengentasan kemiskinan belum berjalan optimal.
Salah satu isu utama dalam pengentasan kemiskinan, yakni peran strategis pendamping sosial dalam membantu KPM beralih dari status penerima bantuan menjadi keluarga mandiri.
Menurutnya, pola pikir dan arah orientasi pendamping juga perlu difokuskan pada upaya pengentasan kemiskinan.
“Mindset bahwa mereka di situ itu tugasnya untuk pengentasan kemiskinan. Kalau tidak, mereka di zona nyaman pendampingan reguler saja,” katanya.
Ia menyampaikan, pendekatan graduasi BRAC merupakan salah satu model yang bisa dipelajari untuk memperkuat proses tersebut. Terlebih pendekatan itu sudah diterapkan pada program penanggulangan kemiskinan di berbagai negara.
Pendekatan graduasi ini berupa proses peningkatan kesejahteraan yang dilaksanakan secara bertahap, terukur, memiliki tenggat waktu, dan disertai pendampingan secara intensif.
Dari sisi upaya pemberdayaan, pemerintah daerah serta organisasi perangkat daerah terkait perlu terlibat aktif sesuai dengan kebutuhan KPM.
Transformasi pengentasan kemiskinan juga perlu diawali dengan memetakan secara tepat masalah yang terjadi di dalam sistem, lalu menentukan intervensi yang tepat.
“Ini hal yang baik buat kami untuk transformasi. Istilah lain dari revolusi adalah transformasi yang dipercepat,” kata Agus menutup audiensi.
Country Lead BRAC Indonesia Abdurrahman Syebubakar menyatakan, pihaknya menyederhanakan komponen utamanya ke dalam konsep ABC, yaitu asset, basic needs, dan coaching.
“Yang berbeda dari pendekatan graduasi ini adalah intervensinya dilakukan secara berurutan. Pendampingannya dan ada batas waktunya,” kata Abdurrahman.
Kriteria graduasi juga mesti disusun secara jelas sehingga KPM tidak dianggap mandiri hanya karena telah selesai menerima suatu program.
“Jadi kriteria graduasi itu menjadi sangat penting. Jangan sampai nanti divonis tergraduasi. Misalnya tergraduasi dari program, atau tergraduasi dari skema yang komprehensif ini. Kemudian minggu depan mereka balik lagi turun miskin. Itu tidak boleh terjadi,” katanya.