JAKARTA- Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) mengikutsertakan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 dalam upaya mengakselerasi penanganan masalah pertanahan di wilayah transmigrasi.
Mengenai pendataan yang dilaksanakan para anggota TEP di lapangan, pemerintah berharap aneka kendala kepemilikan, penguasaan, serta legalitas tanah transmigran sanggup diidentifikasi secara lebih tanggap guna menopang percepatan Program Trans Tuntas.
Wakil Menteri ATR/BPN Ossy Dermawan lewat keterangannya di Jakarta, Senin, menyampaikan bahwa arah transformasi transmigrasi dewasa ini tak lagi sebatas merelokasi penduduk, melainkan ditujukan guna menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru melalui tata kelola sumber daya yang kian adil dan berkelanjutan.
Oleh sebab itu, partisipasi Tim Ekspedisi Patriot memegang peranan krusial untuk menunjang proses transformasi tersebut.
"Jangan kaget apabila nanti di kawasan transmigrasi masih ditemukan berbagai persoalan kepemilikan, penguasaan, maupun legalitas tanah transmigran. Kami berharap Tim Ekspedisi Patriot dapat mendata persoalan tersebut dan berkoordinasi dengan kantor-kantor pertanahan di daerah sehingga menjadi bagian dari upaya penyelesaiannya," kata Ossy.
Ia membeberkan, dinamika pertanahan di kawasan transmigrasi mengantongi karakteristik yang cukup rumit lantaran terpengaruh rekam jejak penguasaan lahan yang sudah berjalan selama berpuluh-puluh tahun.
Atas dasar itu, himpunan data yang dikumpulkan Tim Ekspedisi Patriot di lapangan bakal menjadi bahan masukan bernilai bagi pemerintah saat merumuskan pijakan penanganan yang pas.
Wamen Ossy menggarisbawahi bahwa Kementerian ATR/BPN bersama Kementerian Transmigrasi terus mempererat kolaborasi melalui Program Trans Tuntas demi menuntaskan beragam isu legalitas lahan transmigrasi, termasuk meredam konflik serta tumpang tindih tanah hingga penguatan Reforma Agraria.
"Semua persoalan pasti memiliki solusi apabila kami bersama-sama mencari jalan keluarnya. Program Trans Tuntas menjadi salah satu ikhtiar pemerintah untuk memperbaiki legalitas tanah transmigran secara bertahap," ujarnya.
Di samping menopang pembenahan Isu pertanahan, Tim Ekspedisi Patriot diharapkan turut menyumbang kontribusi nyata terhadap pengembangan wilayah transmigrasi lewat kajian riset yang aplikatif.
Sesuai penjelasan Ossy, hasil temuan Tim Ekspedisi Patriot sanggup dijadikan masukan dalam penyusunan tata ruang wilayah, termasuk pembenahan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) yang menjadi fondasi kemudahan investasi dan pembangunan kawasan ekonomi transmigrasi.
“Adik-adik mahasiswa-mahasiswi nanti tentunya akan merambah masuk ke dalam kawasan-kawasan tersebut, akan dapat memberikan masukan-masukan yang sangat baik terkait dengan penyempurnaan rencana tata ruang nasional kami maupun sampai dengan rencana detail tata ruang kami di daerah-daerah tersebut,” tutur Ossy.
Selanjutnya, Wamen Ossy menitipkan tiga pesan utama bagi seluruh peserta Tim Ekspedisi Patriot, yakni menumbuhkan empati serta kepercayaan dengan warga transmigran, melahirkan karya riset yang mampu menghadirkan solusi atas kendala di lapangan, hingga memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi kawasan transmigrasi.
"Kami berharap adik-adik tidak hanya datang melakukan penelitian, tetapi mampu menghasilkan solusi yang relevan, aplikatif, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat transmigrasi," tutupnya.