Pemprov Jateng Gaji Petani Lewat JTAB, Baru 80 Peserta Terdaftar

Jumat, 18 September 2026 | 13:43:00 WIB

SUARARAKYAT.CO — Sebanyak 80 petani di lima kabupaten Jawa Tengah kini menerima gaji bulanan setara UMK per hektare melalui program JTAB Petani Gajian yang digulirkan PT Jawa Tengah Agro Berdikari. Skema ini memberi modal produksi sejak awal tanam, dengan hasil panen dibeli penuh oleh perusahaan milik Pemprov Jateng tersebut.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menilai konsep dan pelaksanaan program JTAB Petani Gajian sudah bagus. Ia meminta PT JTAB memperluas cakupan program karena provinsi itu memiliki sekitar 1,5 juta hektare lahan pertanian.

"Ini bagus. Harus diperluas. JTAB koordinasi lagi dengan Dinas Pertanian dan Peternakan yang punya datanya, kabupaten mana yang bisa di-cover program ini. Kalau bisa tercover semua maka akan aman karena ada kepastian untuk petani," kata Luthfi di Semarang, Kamis (17/9).

Modal Produksi hingga Gaji per Hektare

Direktur Utama PT JTAB Totok Agus Siswanto menjelaskan, perusahaan menyediakan modal sejak pengolahan lahan hingga panen. Petani peserta menerima penghasilan sesuai upah minimum kabupaten per hektare selama masa tanam.

Hasil panen seluruhnya dijual kepada PT JTAB sebagai pembeli tunggal atau off taker, dengan harga yang dipastikan mengikuti standar pemerintah. Nilai penjualan kemudian dipotong untuk menutup modal produksi dan gaji yang sudah dikucurkan.

"Melalui Program JTAB Petani Gajian ini, kita memberikan kepastian hasil kepada petani, bantuan modal, pengaturan komoditas yang ditanam, lalu kami kasih penghasilan (gaji) sesuai UMK per hektare, dan kemudian kami sebagai off taker hasil panen," ujar Totok.

Jika masih ada sisa dari hasil penjualan setelah pemotongan, dana itu dikembalikan kepada petani. Skema ini dirancang agar petani tidak lagi bergantung pada tengkulak untuk modal awal musim tanam.

Lima Kabupaten dan Target Seribu Petani

Per September 2026, peserta program baru mencapai sekitar 80 petani dengan luas lahan 200-an hektare. Mereka tersebar di Kabupaten Sukoharjo, Sragen, Klaten, Semarang, dan sejumlah daerah lain di Jawa Tengah.

Peserta tidak terbatas pada petani pemilik lahan, tetapi juga petani penggarap. Komoditas yang digarap meliputi padi, bawang merah, dan jagung.

PT JTAB menargetkan sekitar seribuan petani bisa terakomodasi. Untuk mendukung pembiayaan, perusahaan menggandeng PT BPR BKK, Jamkrida untuk kredit petani, serta Jasindo untuk asuransi gagal panen.

"Harapan kami dengan adanya kejelasan dan masa depan yang bagus, nanti akan membuat petani-petani muda kita mau terjun ke sawah. Dari awal kita sudah ada kesepakatan harga beli hasil panen," tutur Totok.

Petani Sukoharjo Rasakan Kemudahan Modal

Ruswanto, petani dari Kabupaten Sukoharjo, mengaku terbantu karena tidak lagi kesulitan mencari modal. Pendampingan diberikan sejak pengolahan lahan, penanaman, pemupukan, sampai panen.

"Penjualan padi juga sudah ditampung oleh PT JTAB. Saya dukung dan semoga bisa diperluas dan ditambah jaringannya," kata Ruswanto.

Pemprov Jateng melalui PT JTAB menyatakan program ini menyasar dua hal sekaligus: menjaga stabilitas panen dan harga komoditas, serta melindungi kesejahteraan petani dari gejolak pasar. Perluasan ke kabupaten lain menunggu pendataan Dinas Pertanian dan Peternakan setempat.

Terkini