JAKARTA - Upaya mempererat hubungan antara Indonesia dan Arab Saudi kini semakin difokuskan pada jalur kebudayaan.
Pemerintah Indonesia melihat sektor ini sebagai jembatan strategis yang tidak hanya memperkuat hubungan bilateral, tetapi juga membuka peluang kolaborasi yang lebih luas di tingkat global. Dalam konteks ini, diplomasi budaya menjadi salah satu instrumen penting untuk memperdalam kerja sama kedua negara yang telah terjalin selama puluhan tahun.
Momentum tersebut terlihat dari pertemuan antara Menteri Kebudayaan dan perwakilan Arab Saudi di Jakarta. Pertemuan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi diplomatik, tetapi juga membahas berbagai peluang kerja sama konkret yang dapat memberikan dampak nyata bagi kedua negara.
Komitmen Memperkuat Hubungan Budaya Dua Negara
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa Indonesia berkomitmen untuk terus mempererat hubungan bilateral dengan Arab Saudi, khususnya melalui sektor kebudayaan yang dinilai memiliki potensi besar.
"Kami sangat senang dengan kehadiran Yang Mulia (Duta Besar Kerajaan Arab Saudi untuk Republik IndonesiaFaisal Abdullah H. Amodi), kami berharap kerja sama kedua negara di bidang kebudayaan dapat terus diperkuat dan memberikan manfaat yang besar bagi ekosistem kebudayaan di kedua negara,” ujar Fadli Zon saat menerima kunjungan Duta Besar Duta Besar Kerajaan Arab Saudi untuk Republik Indonesia Faisal Abdullah H. Amodi, saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis.
Hubungan Indonesia dan Arab Saudi sendiri telah berlangsung selama 76 tahun, mencerminkan kedekatan yang tidak hanya bersifat diplomatik, tetapi juga kultural dan historis. Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas sejumlah potensi kerja sama strategis yang dapat memperkuat hubungan tersebut.
Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam, yang tercermin dalam berbagai Objek Pemajuan Kebudayaan. Hal ini menjadi modal penting dalam menjalin kolaborasi dengan negara lain, termasuk Arab Saudi.
Langkah Strategis Melalui Kementerian Kebudayaan
Dalam kesempatan tersebut, Fadli Zon juga menyoroti pembentukan Kementerian Kebudayaan sebagai kementerian mandiri. Langkah ini dinilai sebagai strategi penting dalam memperkuat upaya pemajuan kebudayaan di Indonesia.
Dengan adanya kementerian yang secara khusus menangani kebudayaan, pemerintah berharap berbagai program dan kerja sama internasional dapat berjalan lebih terarah dan optimal. Hal ini juga membuka peluang lebih besar bagi Indonesia untuk memainkan peran aktif dalam diplomasi budaya di tingkat global.
Ke depan, kerja sama antara Indonesia dan Arab Saudi di bidang kebudayaan diharapkan tidak hanya bersifat simbolis, tetapi juga menghasilkan program-program nyata yang berdampak luas.
Rencana Kerja Sama dan Pembaruan Nota Kesepahaman
Sebagai tindak lanjut dari penguatan hubungan ini, Menteri Kebudayaan Kerajaan Arab Saudi Pangeran Badr bin Abdullah bin Farhan Al Saud direncanakan akan melakukan kunjungan kerja ke Jakarta. Kunjungan tersebut akan menjadi momen penting untuk memperbarui Nota Kesepahaman Kebudayaan antara kedua negara yang akan berakhir pada tahun 2027.
Pembaruan kesepakatan ini diharapkan dapat memperluas ruang lingkup kerja sama, sekaligus memperkuat komitmen kedua negara dalam memajukan kebudayaan masing-masing.
Selain itu, Indonesia juga menyampaikan pencalonan diri dalam keanggotaan UNESCO Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage periode 2026-2030. Dukungan dari Arab Saudi dinilai akan sangat penting dalam memperkuat posisi Indonesia di forum internasional tersebut.
Melalui kerja sama ini, kedua negara juga diharapkan dapat berkontribusi dalam tata kelola dan pelestarian warisan budaya di tingkat global.
Kolaborasi Warisan Budaya dan Industri Kreatif
Kerja sama yang dijajaki tidak hanya terbatas pada kebijakan dan diplomasi, tetapi juga mencakup kolaborasi konkret dalam pelestarian warisan budaya. Indonesia mendorong keterlibatan dalam pengajuan ekstensi elemen Warisan Budaya Takbenda UNESCO, termasuk Arabic Calligraphy yang telah terinskripsi secara multinasional bersama Arab Saudi.
Selain itu, kedua negara juga menjajaki peluang kerja sama pada elemen budaya lain yang memiliki kesamaan praktik kehidupan, seperti Majlis dan Date Palm. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkaya khazanah budaya global sekaligus mempererat hubungan antar masyarakat kedua negara.
Di sektor industri budaya, peluang kerja sama juga terbuka lebar, khususnya dalam bidang perfilman. Fadli Zon melihat potensi besar dalam produksi bersama serta penyelenggaraan festival film. Kolaborasi ini dapat dilakukan melalui Red Sea Film Festival di Jeddah dan JogjaNETPAC Asian Film Festival (JAFF) di Yogyakarta.
Dengan berbagai inisiatif tersebut, kerja sama budaya antara Indonesia dan Arab Saudi diharapkan tidak hanya memperkuat hubungan bilateral, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan industri kreatif dan pelestarian budaya di kedua negara.