JAKARTA - Dinamika birokrasi di lingkungan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) kembali bergerak dengan semangat baru seiring dengan tuntutan kerja cepat yang digariskan oleh pucuk pimpinan nasional. Di tengah tuntutan publik yang semakin besar terhadap efektivitas pelayanan negara, jajaran pejabat yang baru dilantik kini memikul tanggung jawab besar untuk tidak sekadar menjalankan rutinitas, melainkan menjadi mesin penggerak yang mampu mengimbangi ritme kerja pemerintah yang kian akseleratif. Pelantikan ini menjadi momentum penting bagi institusi untuk memperkuat fondasi internal demi menyokong berbagai tugas strategis nasional yang sedang berjalan.
Pelantikan Puluhan Pejabat di Gedung Sasana Bhakti Praja
Pada sebuah seremoni resmi yang berlangsung di Gedung Sasana Bhakti Praja (SBP), Kantor Pusat Kemendagri, Jakarta, Kamis, tongkat estafet kepemimpinan di tingkat menengah resmi diserahterimakan. Mendagri Muhammad Tito Karnavian melantik 15 pejabat pimpinan tinggi pratama dan 34 pejabat administrator di lingkungan Kemendagri. Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, termasuk Sekjen Kemendagri Tomsi Tohir, serta jajaran pejabat pimpinan tinggi madya dan pratama lainnya.
Dalam arahannya, Mendagri mengingatkan para pejabat yang dilantik agar memiliki loyalitas dan prestasi dalam menjalankan tugas. Ia menegaskan, pelantikan tersebut merupakan bagian dari dinamika organisasi untuk mewujudkan kinerja yang semakin baik. Penekanan pada aspek prestasi menunjukkan bahwa promosi jabatan saat ini sangat bergantung pada kapabilitas dan hasil kerja nyata di lapangan.
Mekanisme Evaluasi dan Sifat Sementara Sebuah Jabatan
Salah satu poin krusial yang disampaikan dalam arahan tersebut adalah mengenai integritas dan akuntabilitas para pejabat baru. Jabatan bukanlah zona nyaman, melainkan amanah yang akan dipantau secara berkelanjutan. Mendagri secara terbuka menyatakan bahwa dirinya akan melakukan monitoring yang ketat terhadap progres kerja masing-masing individu yang telah diberikan kepercayaan.
Mendagri juga menegaskan akan rutin mengevaluasi kinerja para pejabat yang dilantik. Kesadaran bahwa posisi yang diemban bukanlah sesuatu yang permanen diharapkan dapat memicu semangat untuk memberikan yang terbaik selama menjabat. “Ini jabatan sementara pasti akan ada akhirnya juga, jadi saya akan mengevaluasi,” ujarnya.
Mengimbangi Ritme Kerja Super Cepat Presiden Prabowo
Tantangan bagi jajaran Kemendagri saat ini terasa lebih berat seiring dengan gaya kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang menuntut efisiensi dan kecepatan. Sebagai menteri yang berada di garda depan urusan dalam negeri, Tito Karnavian merasa perlu memiliki staf yang tidak hanya cerdas secara administratif, tetapi juga lincah dalam merespons instruksi pimpinan.
Ia menegaskan Presiden Prabowo Subianto juga menuntut dirinya agar bekerja secara maksimal. Terlebih, Presiden juga memiliki kecepatan dalam bekerja. Penyesuaian ritme ini menjadi harga mati bagi seluruh jajaran kementerian agar visi besar pemerintah dapat segera terealisasi. “Jadi saya juga harus bekerja super tinggi, dan saya juga memerlukan tim pendukung saya juga bekerja super cepat, super tinggi juga,” ujarnya.
Tanggung Jawab Multisektor dan Kebutuhan Tim Solid
Beban kerja Kemendagri saat ini memang tergolong kompleks. Selain mengurusi administrasi kewilayahan dan pemerintahan daerah, Mendagri juga mengemban tugas lain yang tak kalah strategis, seperti Kepala Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) serta Kasatgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Wilayah Sumatera. Berbagai tugas tersebut membutuhkan dukungan tim yang solid agar hasilnya optimal.
Oleh karena itu, kolaborasi lintas sektoral di internal kementerian menjadi sangat vital. Mendagri berharap para pejabat yang baru dilantik dapat langsung melakukan akselerasi dan tidak terjebak dalam pola kerja lama. “Rekan-rekan yang dilantik tolong buktikan, rekan-rekan mampu untuk membantu saya dan kemudian saya juga minta jangan terjebak dalam rutinitas,” jelasnya.
Analogi Tenda Kelompok: Menjaga Kehormatan Institusi
Dalam pidatonya, Mendagri menyampaikan sebuah filosofi yang cukup mendalam mengenai eksistensi sebuah institusi pemerintah melalui analogi “tenda kelompok” atau group tent theory. Analogi ini digunakan untuk menggambarkan betapa kuatnya keterikatan antara kesejahteraan individu dengan kesehatan organisasi tempat mereka bernaung.
Menurutnya, Kemendagri ibarat tenda yang melindungi seluruh anggotanya, termasuk memberi penghidupan, status, dan kehormatan. Tenda dapat berdiri kokoh ketika semua anggota di bawahnya ikut menopang. Sebaliknya, integritas institusi akan terancam jika ada oknum yang justru melemahkan fondasi dari dalam melalui kinerja yang buruk atau tindakan yang tidak terpuji.
Namun, jika ada anggota yang tidak menopang kekuatan di dalam tenda, maka tenda tersebut bisa roboh. Karena itu, ia menekankan agar para pejabat mampu menopang tenda tersebut agar tetap berdiri kokoh melalui kinerja yang baik. Pesan ini menjadi pengingat bagi 49 pejabat yang dilantik bahwa performa mereka secara kolektif akan menentukan martabat dan kewibawaan Kementerian Dalam Negeri di mata publik dan pemerintah pusat.