HARGA SEMBAKO

Update Harga Sembako Jawa Timur: Cabai Rawit dan Daging Sapi Melonjak

Update Harga Sembako Jawa Timur: Cabai Rawit dan Daging Sapi Melonjak
Update Harga Sembako Jawa Timur: Cabai Rawit dan Daging Sapi Melonjak

JAKARTA - Dinamika harga kebutuhan pokok di wilayah Jawa Timur kembali menunjukkan tren fluktuatif pada awal Februari 2026. Berdasarkan laporan terbaru, masyarakat perlu memberikan perhatian ekstra pada anggaran belanja dapur mereka, mengingat adanya kenaikan harga pada dua komoditas penting, yakni cabai rawit dan daging sapi. Di sisi lain, beberapa komoditas hortikultura seperti bawang dan jenis cabai lainnya justru mengalami penurunan tipis, memberikan sedikit napas lega bagi para ibu rumah tangga.

Memantau pergerakan harga sembako setiap hari kini bukan lagi sekadar rutinitas, melainkan kebutuhan mendesak. Dengan memahami perubahan harga secara real-time, masyarakat diharapkan dapat lebih bijak dalam mengatur belanja harian. Langkah ini krusial untuk menjaga kestabilan pengeluaran rumah tangga agar tidak membengkak secara tiba-tiba di tengah situasi pasar yang kerap tidak menentu.

Memahami Definisi dan Signifikansi Sembako dalam Kesejahteraan

Istilah sembako, yang merupakan akronim dari sembilan bahan pokok, merujuk pada daftar kebutuhan dasar yang mutlak diperlukan oleh masyarakat Indonesia. Kehadiran sembako sangat vital karena berkaitan langsung dengan pemenuhan gizi dan kelancaran operasional rumah tangga sehari-hari.

Secara regulasi dan tradisi, sembilan jenis kebutuhan pokok tersebut mencakup beras, gula pasir, minyak goreng dan mentega, serta daging sapi dan daging ayam. Tak ketinggalan, telur ayam, susu, bawang merah dan bawang putih, hingga gas elpiji, minyak tanah, dan garam juga masuk dalam daftar ini. Namun, dalam konteks kuliner nusantara, cabai sering kali dianggap sebagai "kebutuhan kesepuluh" yang harganya sangat mempengaruhi psikologi pasar.

Rincian Harga Rata-Rata Bahan Pokok di Jawa Timur Saat Ini

Mengacu pada data yang dihimpun dari Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jawa Timur pada Selasa, 3 Februari 2026, berikut adalah rincian harga rata-rata berbagai komoditas di wilayah tersebut:

Beras Premium: Rp 14.794/kg

Beras Medium: Rp 12.863/kg

Gula kristal putih: Rp 16.568/kg

Minyak goreng curah: Rp 18.776/kg

Minyak goreng kemasan premium: Rp 20.333/liter

Minyak goreng kemasan sederhana: Rp 17.400/liter

Minyak goreng Minyakita: Rp 16.349/liter

Daging sapi paha belakang: Rp 119.810/kg

Daging ayam ras: Rp 35.975/kg

Daging ayam kampung: Rp 67.426/kg

Telur ayam ras: Rp 27.422/kg

Telur ayam kampung: Rp 45.819/kg

Susu kental manis (Bendera): Rp 12.441 (370 gr/kl)

Susu kental manis (Indomilk): Rp 12.463 (370 gr/kl)

Susu bubuk (Bendera): Rp 41.611 (400 gr/dos)

Susu bubuk (Indomilk): Rp 41.060 (400 gr/dos)

Garam bata: Rp 1.898

Garam halus: Rp 9.451/kg

Cabai merah keriting: Rp 28.720/kg

Cabai merah besar: Rp 26.779/kg

Cabai rawit merah: Rp 66.035/kg

Bawang merah: Rp 33.956/kg

Bawang putih: Rp 32.343/kg

Gas elpiji: Rp 19.823

Analisis Kenaikan dan Penurunan Komoditas Utama

Berdasarkan harga rata-rata hari ini, lonjakan yang paling terasa terjadi pada cabai rawit merah yang naik sebesar Rp 1.450 atau sekitar 2,25 persen. Selain itu, daging sapi bagian paha belakang juga mengalami kenaikan meskipun tipis, yakni Rp 315 atau 0,26 persen.

Kabar baiknya, terdapat tren penurunan pada sejumlah bahan dapur lainnya. Cabai keriting tercatat turun Rp 291 (1,00 persen), disusul cabai merah besar yang turun Rp 235 (0,87 persen). Bawang merah dan bawang putih masing-masing terkoreksi turun sebesar Rp 159 (0,47 persen) dan Rp 212 (0,65 persen). Penurunan paling signifikan secara nominal terjadi pada daging ayam kampung yang merosot hingga Rp 1.556 atau setara 2,26 persen.

Faktor-Faktor Sistemik di Balik Volatilitas Harga

Ketidakpastian harga sembako tidak terjadi secara acak, melainkan dipengaruhi oleh berbagai variabel yang saling berkaitan. Faktor pertama adalah hukum permintaan dan penawaran. Jika permintaan meningkat di saat stok tetap atau berkurang, harga otomatis akan terkerek naik. Sebaliknya, pasokan yang melimpah dibandingkan permintaan akan memicu penurunan harga.

Faktor alam seperti cuaca ekstrem dan bencana juga memegang peranan vital karena dapat mengganggu siklus produksi pertanian. Kekurangan pasokan akibat gagal panen akibat cuaca buruk adalah pemicu klasik kenaikan harga. Selain itu, kebijakan pemerintah terkait impor, subsidi, serta regulasi pajak juga berdampak langsung pada label harga di pasar tradisional.

Di sisi operasional, kenaikan biaya produksi—mulai dari harga pupuk, bahan bakar (BBM), hingga upah pekerja—akan menambah beban biaya transportasi dan distribusi. Faktor eksternal seperti fluktuasi kurs mata uang (terutama untuk barang impor), laju inflasi yang tinggi, hingga stabilitas ekonomi makro turut membentuk harga akhir yang dibayar konsumen. Terakhir, hambatan logistik seperti kemacetan atau gangguan rantai pasokan juga berpotensi menciptakan kelangkaan barang secara mendadak.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index