Kementerian PU Perkuat Suplai Air Bersih RSUD Aceh Tamiang Pascabencana

Jumat, 23 Januari 2026 | 12:47:36 WIB
Kementerian PU Perkuat Suplai Air Bersih RSUD Aceh Tamiang Pascabencana

JAKARTA - Pemenuhan kebutuhan air bersih menjadi salah satu fondasi utama dalam pelayanan kesehatan, terutama di wilayah yang baru saja terdampak bencana. 

Di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, perhatian terhadap aspek tersebut kini mendapat prioritas serius dari pemerintah pusat. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengambil langkah konkret dengan memperkuat suplai air bersih untuk Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aceh Tamiang melalui optimalisasi Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Karang Baru.

Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya percepatan pemulihan layanan dasar pascabencana, sekaligus memastikan fasilitas kesehatan tetap dapat beroperasi secara optimal. RSUD Aceh Tamiang dipandang sebagai simpul layanan vital bagi masyarakat, sehingga keberlanjutan pasokan air bersih tidak boleh terganggu.

Air Bersih Jadi Prioritas Layanan Kesehatan

Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menegaskan bahwa penguatan suplai air bersih ke RSUD Aceh Tamiang merupakan langkah mendesak yang tidak bisa ditunda. Menurutnya, air bersih adalah kebutuhan mendasar, terlebih bagi fasilitas kesehatan yang melayani pasien setiap hari dengan berbagai kondisi medis.

"Air bersih adalah kebutuhan mendasar, terlebih untuk rumah sakit. Karena itu, Kementerian PU memastikan suplai air tetap terjaga sambil menyiapkan pembangunan permanen agar ke depan sistem ini lebih bagus lagi," kata Dody.

Pernyataan tersebut menegaskan komitmen Kementerian PU untuk tidak hanya berfokus pada solusi jangka pendek, tetapi juga menyiapkan sistem permanen yang lebih andal dan berkelanjutan. Dengan demikian, risiko gangguan suplai air bersih di masa depan dapat diminimalkan, khususnya saat terjadi kondisi darurat.

Percepatan Penanganan SPAM Karang Baru

Dalam rangka memastikan ketersediaan air bersih tetap terjaga, Kementerian PU terus mengakselerasi penanganan SPAM Karang Baru. Sistem ini menjadi tulang punggung penyediaan air bersih bagi masyarakat Aceh Tamiang, termasuk untuk kebutuhan RSUD setempat.

Penanganan SPAM Karang Baru dilakukan melalui metode Design and Build. Metode ini mencakup pembangunan instalasi pengolahan air (IPA) baru serta reservoir tambahan guna meningkatkan kapasitas dan keandalan sistem. Proses pembangunan tersebut diperkirakan akan memakan waktu sekitar enam bulan.

Pendekatan Design and Build dipilih agar proses perencanaan dan pelaksanaan dapat berjalan lebih cepat dan efisien. Dengan metode ini, diharapkan sistem SPAM Karang Baru dapat segera beroperasi secara optimal dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Langkah Sementara Jaga Pasokan Tetap Stabil

Sambil menunggu pembangunan permanen rampung, Kementerian PU juga menyiapkan berbagai langkah penanganan sementara. Langkah ini bertujuan memastikan pasokan air bersih, khususnya ke RSUD Aceh Tamiang, tidak mengalami gangguan selama masa transisi pembangunan.

Beberapa upaya yang telah dilakukan antara lain perbaikan sarana penyediaan air minum eksisting yang dikelola oleh PDAM Tirta Tamiang. Selain itu, optimalisasi pemanfaatan instalasi pengolahan air (IPA) mobile juga terus dilakukan untuk menutup kekurangan suplai.

Upaya sementara ini menjadi krusial mengingat kebutuhan air bersih di rumah sakit bersifat non-stop dan tidak bisa ditunda. Dengan kombinasi perbaikan infrastruktur eksisting dan pemanfaatan teknologi mobile, Kementerian PU berupaya menjaga kontinuitas layanan kesehatan di Aceh Tamiang.

Peningkatan Kapasitas dan Kualitas Pengolahan Air

Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian PU, Dewi Chomistriana, menjelaskan bahwa penanganan SPAM Karang Baru akan dilakukan secara menyeluruh. Tidak hanya meningkatkan kapasitas, tetapi juga memperbaiki kualitas pengolahan air agar memenuhi standar yang dibutuhkan.

"Kami akan membangun instalasi pengolahan air baru dengan kapasitas 100 liter per detik, reservoir baru berkapasitas 1.000 meter kubik, serta IPA baja yang akan kami adakan. Secara keseluruhan, target penyelesaian kami adalah Juli 2026," ujar Dewi.

Ia menambahkan bahwa pembangunan reservoir berkapasitas 1.000 meter kubik telah dimulai dengan pelaksanaan pancang perdana. Infrastruktur ini diharapkan dapat meningkatkan ketahanan sistem distribusi air bersih, terutama saat terjadi lonjakan kebutuhan atau kondisi darurat.

Selain itu, Kementerian PU juga menambahkan bangunan pra sedimentasi. Langkah ini diambil untuk mengatasi tingkat kekeruhan air baku yang sangat tinggi pascabencana.

"Tadi, kita lihat airnya sangat keruh, jauh di atas ambang batas. Karena itu, kami tambahkan tangki pra sedimentasi agar proses pengolahan lebih optimal dan tidak memerlukan bahan kimia berlebihan," kata Dewi.

Dampak Bencana dan Penanganan Terintegrasi

Berdasarkan hasil identifikasi Kementerian PU, kerusakan infrastruktur air minum akibat bencana di Provinsi Aceh tercatat terjadi pada 52 SPAM yang tersebar di 11 kabupaten/kota. Total kapasitas sistem yang terdampak mencapai 2.151 liter per detik, angka yang menunjukkan skala kerusakan cukup signifikan.

Penanganan terhadap kerusakan tersebut dilakukan secara bertahap dan terintegrasi. Kementerian PU juga berkolaborasi dengan pemerintah daerah serta pengelola SPAM setempat agar proses pemulihan berjalan efektif dan tepat sasaran.

Melalui penguatan SPAM Karang Baru dan berbagai langkah pendukung lainnya, pemerintah berharap kebutuhan dasar masyarakat, khususnya layanan kesehatan di RSUD Aceh Tamiang, dapat tetap terpenuhi. Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun sistem air bersih yang lebih tangguh dan siap menghadapi tantangan di masa depan.

Terkini