Asuransi

Cara Meningkatkan Kesadaran Asuransi Gen Z Melalui Transformasi Digital Industri

Cara Meningkatkan Kesadaran Asuransi Gen Z Melalui Transformasi Digital Industri
Cara Meningkatkan Kesadaran Asuransi Gen Z Melalui Transformasi Digital Industri

JAKARTA - Di tengah dominasi budaya self-reward, konser musik lintas negara, hingga tren cafe hopping yang menjamur, terdapat satu instrumen finansial yang sering kali luput dari radar percakapan Gen Z dan milenial: asuransi. Fenomena ini menciptakan paradoks yang cukup tajam. Di satu sisi, generasi muda adalah kelompok yang paling terpapar pada ketidakpastian masa depan, namun di sisi lain, mereka justru menjadi kelompok yang paling enggan membentengi diri dengan proteksi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kekuatan demografi Indonesia saat ini memang dipayungi oleh Gen Z dan milenial dengan jumlah mencapai lebih dari 144 juta jiwa. Namun, angka besar ini tidak berbanding lurus dengan kepemilikan polis. Laporan Populix tahun 2024 mengungkapkan fakta yang memprihatinkan: meski 54 persen Gen Z mengaku tertarik pada asuransi, kenyataannya hanya 16 persen saja yang memiliki polis aktif. Kesenjangan antara minat dan aksi ini menjadi sinyal bahwa ada yang perlu diperbaiki dalam cara kita memandang perlindungan finansial.

Realitas Risiko di Balik Kemudahan Digital

Generasi yang lahir dan besar di era digital ini terbiasa dengan segala sesuatu yang serba instan. Meski hidup terasa lebih mudah, tantangan yang mereka hadapi sebenarnya jauh lebih kompleks. Lonjakan biaya kesehatan yang melampaui inflasi umum, transisi pola kerja menuju ekonomi gig yang minim jaminan sosial, hingga ketidakpastian ekonomi global adalah risiko nyata yang mengintai setiap saat. Sayangnya, tumbuhnya kesadaran akan mitigasi risiko ini tidak berjalan linier dengan perkembangan gaya hidup mereka. Bagi banyak anak muda, asuransi masih dipandang sebagai pos pengeluaran yang bisa ditunda, bukan sebagai kebutuhan dasar yang mendesak.

Permasalahannya mungkin bukan sekadar pada ketidakmampuan finansial. Ada kendala struktural terkait literasi dan cara industri asuransi mendekati mereka. Gen Z dan milenial tidak membenci asuransi; mereka hanya membenci kerumitan. Ketika sebuah produk asuransi dipersepsikan sebagai sesuatu yang berbelit-belit dan sulit dipahami, secara otomatis produk tersebut akan tereliminasi dari daftar prioritas keuangan mereka.

Mengubah Cara Pandang dan Cara Kerja

Menghadapi tantangan ini, industri asuransi tidak punya pilihan lain selain bertransformasi. Produk asuransi tidak boleh lagi ditawarkan sekadar sebagai komoditas, melainkan harus diposisikan sebagai instrumen solutif yang menjaga keberlanjutan hidup. Industri harus menyadari bahwa narasi yang terlalu kaku dan teknis tidak akan mempan bagi generasi yang sangat menghargai transparansi, kemudahan akses, dan relevansi.

Ada fenomena menarik di mana Gen Z rela mengeluarkan jutaan rupiah demi pengalaman sekali seumur hidup seperti festival musik atau travelling (budaya You Only Live Once atau YOLO), namun sangat berhitung ketika harus membayar premi. Padahal, fase awal karier dan pembangunan aset justru merupakan waktu paling kritis untuk memiliki proteksi. Satu kejadian tak terduga—seperti kecelakaan atau sakit keras—bisa meruntuhkan seluruh rencana masa depan yang sudah disusun rapi. Oleh karena itu, tantangan bagi pelaku industri adalah bagaimana mengemas proteksi ini agar terlihat semenarik tiket konser atau rencana liburan mereka.

Lima Langkah Inovasi Berbasis Teknologi

Pemanfaatan teknologi menjadi kunci utama dalam menjembatani jarak antara industri asuransi dan generasi digital. Geoff Keast (2024) menawarkan lima langkah strategis yang bisa diadopsi oleh industri untuk memikat hati Gen Z dan milenial.

Pertama, Simplicity. Segala proses, mulai dari pendaftaran hingga klaim, harus dibuat sederhana secara digital dengan penjelasan manfaat yang bebas dari istilah "langit". Kedua, Integrated Base. Asuransi harus "hadir" secara organik dalam aktivitas harian mereka melalui integrasi di platform-platform digital yang sering mereka gunakan. Ketiga, Personal Insurance. Memanfaatkan data untuk menciptakan produk yang sangat personal, fleksibel, dan tentu saja terjangkau sesuai dengan gaya hidup masing-masing individu.

Keempat, Customer Experiences. Membangun ekosistem layanan yang responsif, misalnya melalui chatbot yang cepat dan penggunaan bahasa yang manusiawi tanpa istilah teknis yang memusingkan. Kelima, Keep Involving. Industri harus terlibat secara berkelanjutan dan bertanggung jawab dalam memberikan solusi perlindungan yang adaptif terhadap perubahan fase hidup nasabah. Namun, inovasi teknologi ini tetap memerlukan pondasi yang kuat bernama literasi.

Literasi sebagai Fondasi Kesadaran Risiko

Membangun generasi yang sadar asuransi adalah proyek jangka panjang yang membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak. Literasi bukan hanya tugas industri untuk berjualan, melainkan tanggung jawab bersama untuk menciptakan masyarakat yang mandiri secara finansial. Sinergi antara regulator seperti OJK, Dewan Asuransi Indonesia (DAI), dan asosiasi-asosiasi terkait sangat diperlukan untuk memperluas ruang edukasi.

Upaya ini terlihat dalam kegiatan seperti kuliah umum "Insights for the Future" di Universitas Jember pada 12 Februari 2026. Dalam kesempatan tersebut, Ogi Prastomiyono selaku Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK, menekankan bahwa edukasi finansial sejak dini adalah pilar fundamental. Pemahaman mengenai mitigasi risiko dan pengambilan keputusan finansial yang sehat harus menjadi bagian dari gaya hidup Gen Z.

Redefinisi Peran Industri di Masa Depan

Di dunia yang penuh dengan guncangan, risiko adalah kepastian yang harus dimitigasi. Generasi muda yang paham risiko sejak awal akan memiliki stabilitas hidup yang lebih baik. Oleh karena itu, industri perlu me-redefinisi perannya bukan sekadar sebagai penjamin, tapi sebagai mitra dalam menjaga keberlanjutan rencana hidup nasabah.

Transformasi harus menyentuh desain produk, seperti menghadirkan produk mikro yang modular dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan harian. Selain itu, konten edukasi di media sosial harus dibuat lebih engaging, interaktif, dan mudah dicerna. Masa depan Gen Z dan milenial tidak hanya bergantung pada seberapa keras mereka bekerja membangun aset, tetapi juga pada seberapa kuat benteng perlindungan yang mereka siapkan untuk melindungi apa yang telah mereka bangun hari ini.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index