JAKARTA - Lanskap industri asuransi milik negara di ambang perubahan sejarah. Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara secara resmi mengumumkan peta jalan ambisius untuk melakukan perampingan drastis pada entitas asuransi pelat merah. Langkah ini diambil bukan sekadar untuk mengurangi jumlah perusahaan, melainkan sebagai upaya strategis menciptakan ekosistem keuangan yang lebih ramping, efisien, dan memiliki spesialisasi yang tajam di bidangnya masing-masing.
Transformasi ini merupakan bagian dari visi besar pemerintah untuk memangkas birokrasi dan tumpang tindih operasional di tubuh perusahaan milik negara. Dengan menyatukan kekuatan belasan entitas asuransi ke dalam tiga pilar besar, diharapkan daya saing asuransi nasional tidak hanya menguat di pasar domestik, tetapi juga mampu berbicara lebih banyak di kancah regional.
Visi Perampingan Entitas BUMN Secara Agresif
Langkah Danantara ini menjadi sinyal kuat bahwa efisiensi adalah agenda utama pemerintah dalam mengelola aset negara pada tahun 2026. COO BPI Danantara Dony Oskaria mengatakan, pada tahun ini, jumlah anak hingga cucu usaha BUMN akan dipangkas dari 1.043 entitas menjadi sekitar 300 entitas. Ia pun menegaskan bahwa seluruh BUMN akan terdampak restrukturisasi tersebut, termasuk sektor asuransi.
Pemangkasan jumlah entitas hingga lebih dari 70 persen ini menunjukkan keseriusan BPI Danantara dalam melakukan pembersihan struktur yang dianggap terlalu gemuk. Dengan jumlah perusahaan yang lebih sedikit, kontrol dan alokasi modal diharapkan dapat dilakukan secara lebih presisi dan berdampak langsung pada kontribusi ekonomi nasional.
Tiga Pilar Spesialisasi Baru di Sektor Asuransi
Peta merger yang disiapkan tidak akan menyatukan semua jenis asuransi secara sembarangan. Danantara telah menyiapkan cetak biru di mana hasil penggabungan tersebut akan melahirkan tiga entitas dengan tugas yang spesifik dan fokus. Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara akan melakukan merger 15 asuransi pelat merah menjadi tiga. Nantinya, ketiganya akan memiliki spesialisasi masing-masing.
"Asuransi dari 15 akan menjadi 3, kita akan punya satu life insurance, satu general insurance dan satu credit insurance," jelas Dony dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 di Hotel Kempinski, Jakarta, dikutip Rabu. Melalui pembagian ini, tumpang tindih pasar antar-perusahaan BUMN yang selama ini terjadi dapat dieliminasi, sehingga setiap entitas dapat mengoptimalkan layanan mereka tanpa harus bersaing dengan sesama perusahaan pelat merah.
Otoritas Jasa Keuangan Menelaah Skema Merger Bersama IFG
Meski rencana besar ini sudah diumumkan ke publik, proses teknis di lapangan masih memerlukan diskusi mendalam antara pihak pengelola investasi dengan regulator jasa keuangan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) buka suara soal wacana Badan Pengelola Informasi (BPI) Danantara yang disebut akan mengurangi jumlah asuransi BUMN melalui merger dan akuisisi.
Saat ditanya tentang kemungkinan perampingan 16 asuransi pelat merah menjadi 3, Kepala Eksekutif Pengawasan Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono mengatakan, pihaknya masih dalam tahap diskusi dengan holding asuransi pelat merah IFG. "Oh, itu kita masih bicara dengan IFG. Kita harus bicara dengan IFG untuk bagaimana programnya," ungkap Ogi ditemui di Gedung DPR RI, di Jakarta. Sinkronisasi antara kebijakan Danantara dan pengawasan OJK menjadi kunci agar proses merger ini tidak mengganggu perlindungan konsumen dan stabilitas industri asuransi nasional.
Daftar Entitas yang Masuk dalam Radar Restrukturisasi
Hingga saat ini, ekosistem asuransi BUMN berada di bawah payung IFG (Indonesia Financial Group) Holding yang membawahi berbagai perusahaan dengan lini bisnis beragam. IFG Holding membawahi beberapa perusahaan asuransi, penjaminan, dan investasi. Adapun beberapa anak usaha IFG Holding antara lain, Jasa Raharja, Jamkrindo, dan Askrindo. Selain itu, IFG juga membawahi Jasindo.
Dari bagian asuransi jiwa dan kesehatan, IFG memiliki anak usaha IFG Life. Keberadaan entitas-entitas besar ini nantinya akan dikonsolidasikan untuk membentuk tiga pilar utama asuransi nasional. Selain itu, ada juga asuransi umum yang menjadi anak usaha BUMN, diantaranya PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) dan PLN Insurance. Integrasi perusahaan-perusahaan dengan aset jumbo ini tentu akan menjadi salah satu proses aksi korporasi terbesar di sektor keuangan Indonesia dalam satu dekade terakhir.