Karakteristik Perusahaan Dagang: Pengertian, Jenis, dan Kegiatannya

Karakteristik Perusahaan Dagang: Pengertian, Jenis, dan Kegiatannya
Illustrasi karakteristik perusahaan dagang

Jakarta - Karakteristik perusahaan dagang menggambarkan jenis usaha yang berfokus pada aktivitas pembelian barang, penyimpanan, lalu penjualan kembali tanpa melakukan proses produksi atau perubahan bentuk barang.

Contoh yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari adalah toko ritel dan supermarket yang memperoleh produk dari distributor untuk kemudian dijual langsung kepada konsumen, sesuai dengan karakteristik perusahaan dagang.

Apa Itu Perusahaan Dagang?

Perusahaan dagang merupakan bentuk usaha yang menjalankan aktivitas utama berupa membeli barang atau produk dari pihak lain untuk kemudian dipasarkan kembali tanpa melalui proses produksi. 

Barang yang diperjualbelikan umumnya berasal dari produsen atau distributor, lalu ditawarkan kepada konsumen dengan harga yang lebih tinggi sebagai sumber keuntungan.

Dalam praktiknya, jenis usaha ini terbagi menjadi dua kelompok. Pertama, perusahaan dagang berskala besar yang berperan sebagai penyalur atau distributor. 

Kedua, perusahaan dagang berskala kecil atau ritel yang menjual produk langsung kepada pembeli akhir.

Dilihat dari sumber perolehan barang, perusahaan dagang juga dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori. 

Ada yang mendapatkan produk dari produsen atau distributor dalam negeri, dan ada pula yang mendatangkan barang dari luar negeri untuk dipasarkan kembali di pasar domestik.

Keberadaan perusahaan dagang memegang peranan penting dalam kegiatan ekonomi, khususnya di sektor perdagangan dan konsumsi. 

Usaha ini membantu memenuhi kebutuhan masyarakat akan berbagai produk sekaligus berkontribusi dalam perputaran ekonomi dan aktivitas pasar.

Karakteristik Perusahaan Dagang

Berikut adalah ciri utama yang membedakan usaha ini, yang dikenal sebagai karakteristik perusahaan dagang.

• Kegiatan inti usaha mencakup pembelian barang, penyimpanan di tempat penyimpanan, lalu mendistribusikannya kembali kepada pembeli.
• Usaha ini tidak menjalankan aktivitas pembuatan atau pengolahan produk.
• Perolehan keuntungan dihitung dari selisih total penjualan dengan biaya pembelian barang serta pengeluaran operasional.
• Produk yang dipasarkan tidak mengalami proses produksi dalam bentuk apa pun sebelum dijual.
• Barang dipasarkan dalam kondisi yang sama seperti saat diperoleh dari pemasok tanpa modifikasi atau pengolahan tambahan.
• Pencatatan keuangan berfokus pada persediaan barang, termasuk perhitungan harga pokok penjualan serta penyusunan laporan laba rugi menggunakan metode satu tahap maupun bertahap.

Seperti bentuk usaha lainnya, perusahaan yang bergerak di bidang jual beli memiliki ciri pembeda yang membentuk pola operasionalnya. Berikut penjelasan lebih lanjut mengenai karakter yang melekat pada jenis usaha ini:

Aktivitas Usaha
Kegiatan utama meliputi pengadaan barang, pengelolaan stok, dan penjualan produk kepada pelanggan. Usaha ini tidak terlibat dalam proses perubahan bentuk atau fungsi barang sebelum dipasarkan.

Permodalan
Sumber modal umumnya berasal dari perputaran barang yang telah terjual. Apabila penjualan berjalan lambat, kondisi tersebut dapat memengaruhi ketersediaan dana untuk membeli stok berikutnya.

Sumber Pendapatan
Pendapatan diperoleh dari hasil penjualan produk kepada konsumen. Tidak ada tambahan pemasukan dari proses produksi sebagaimana terjadi pada usaha manufaktur.

Perolehan Keuntungan
Keuntungan dihasilkan dari selisih antara harga beli dan harga jual, setelah dikurangi berbagai biaya operasional. Ketika penjualan menurun, dampaknya akan langsung terasa pada pendapatan dan keuntungan usaha.

Strategi Pemasaran
Pengelolaan penjualan yang tepat menjadi faktor penting untuk meningkatkan pendapatan. Strategi yang terarah membantu mendorong kenaikan omzet sekaligus menjaga kelancaran perputaran modal.

Memahami ciri-ciri usaha dagang secara menyeluruh sangat penting bagi pelaku usaha maupun calon pengusaha agar dapat menjalankan kegiatan bisnis secara efektif dan berkelanjutan.

Jenis-Jenis Perusahaan Dagang

Secara umum, usaha dagang dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori utama, yaitu sebagai berikut:

1. Berdasarkan Jenis Produk yang Diperdagangkan

Perusahaan Dagang Produk Produksi
Jenis usaha ini memperjualbelikan barang yang berfungsi sebagai bahan dasar atau sarana penunjang dalam proses pembuatan produk lain. 

Barang yang dipasarkan biasanya berupa bahan mentah atau peralatan produksi. Contohnya antara lain kayu gelondongan dan mesin bubut.

Perusahaan Dagang Produk Siap Pakai
Usaha ini berfokus pada penjualan barang akhir yang sudah dapat langsung digunakan atau dikonsumsi oleh pengguna. 

Produk yang diperdagangkan tidak memerlukan proses lanjutan sebelum digunakan. Contohnya seperti tas ransel, pakaian, dan peralatan elektronik rumah tangga seperti kulkas.

2. Berdasarkan Jenis Konsumen yang Dilayani

Perusahaan Dagang Skala Besar (Wholesaler)
Jenis ini membeli barang langsung dari pabrik atau produsen dalam jumlah besar, kemudian menjualnya kembali dalam volume besar pula. Contoh yang umum dijumpai adalah pedagang grosir.

Perusahaan Dagang Perantara (Middleman)
Usaha ini memperoleh barang dalam jumlah besar, lalu mendistribusikannya kembali kepada pengecer dengan kuantitas yang lebih kecil. Contohnya adalah pedagang subgrosir.

Perusahaan Dagang Pengecer (Retailer)
Jenis usaha ini berinteraksi langsung dengan pembeli akhir. Produk dijual secara satuan atau eceran dan biasanya mudah ditemukan di sekitar lingkungan masyarakat. Contohnya meliputi warung, kios, dan swalayan.

Kegiatan Utama Perusahaan Dagang

Aktivitas inti perusahaan dagang mencakup pembelian barang dari produsen atau pemasok, pengaturan serta perawatan persediaan, pengeluaran biaya operasional seperti distribusi, penyimpanan, dan promosi, hingga penjualan barang kepada pelanggan.

Usaha ini tidak melakukan proses pengolahan atau perubahan terhadap barang sebelum dipasarkan, sehingga produk yang diterima konsumen berada dalam kondisi yang sama seperti saat diperoleh dari pemasok atau produsen.

Rangkaian kegiatan tersebut umumnya berlangsung dalam sistem rantai pasok, di mana perusahaan dagang berperan sebagai penghubung antara pihak penyedia barang dan pengguna akhir.

Dalam pencatatan dan prosedur akuntansinya, sistem yang digunakan perusahaan dagang pada dasarnya serupa dengan yang diterapkan pada perusahaan jasa.

Keuntungan atau kerugian usaha ditentukan dengan cara mengurangkan seluruh biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan dari total hasil penjualan pada periode tertentu.

Biaya yang dimaksud meliputi harga perolehan barang yang dijual serta pengeluaran operasional selama periode berjalan. Nilai barang yang berhasil terjual tersebut dikenal sebagai harga pokok penjualan. 

Sebagai contoh pada toko elektronik, harga pokok penjualan mencakup seluruh biaya pembelian televisi, radio, kulkas, mesin cuci, dan produk lain yang terjual dalam satu periode akuntansi.

Sementara itu, biaya operasional toko elektronik meliputi berbagai pengeluaran yang berkaitan dengan aktivitas penjualan dan administrasi, seperti sewa tempat, gaji karyawan, biaya promosi, listrik, dan komunikasi.

Dalam proses pencatatan keuangan, terdapat empat unsur utama yang diperhatikan, yaitu arus barang masuk berupa pembelian, arus kas keluar untuk pengeluaran, arus barang keluar berupa penjualan, serta arus kas masuk sebagai pendapatan.

Hal Penting Yang Harus Diperhatikan dalam Akuntansi Perusahaan Dagang

Berikut sejumlah aspek penting yang perlu menjadi perhatian dalam pengelolaan perusahaan dagang:

Pengendalian Persediaan (Inventory Control)
Pencatatan stok barang dalam akuntansi dibagi ke dalam dua pendekatan, yaitu sistem periodik dan sistem perpetual.

Pada sistem periodik, setiap transaksi pembelian tidak langsung dicatat ke akun persediaan, melainkan dimasukkan ke akun pembelian. 

Hal serupa berlaku pada transaksi penjualan yang tidak mengurangi akun persediaan, tetapi dicatat pada akun penjualan.

Sementara itu, dalam sistem perpetual, setiap transaksi penjualan dan harga pokok penjualan dicatat secara langsung pada saat barang dijual. Dengan metode ini, data akuntansi selalu menunjukkan jumlah persediaan terkini.

Agar pencatatan transaksi yang bersifat rutin dan berjumlah besar lebih efisien, penggunaan jurnal khusus sangat disarankan.

Arus Kas (Cash Flow)
Pengelolaan arus kas menjadi fondasi utama dalam operasional perusahaan dagang. Dengan manajemen kas yang baik, seluruh aktivitas usaha dapat berjalan lancar, baik untuk kebutuhan operasional, pembayaran kewajiban yang jatuh tempo, maupun rencana investasi.

Oleh karena itu, laporan keuangan khususnya yang mencatat pemasukan dan pengeluaran kas memegang peranan penting dalam menilai kesehatan keuangan perusahaan.

Keuntungan Usaha (Profit)
Keberlangsungan dan pertumbuhan bisnis sangat bergantung pada kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan. Tanpa profit, perusahaan akan kesulitan berkembang dan berisiko tertinggal dalam persaingan.

Jika kondisi ini berlanjut, usaha dapat kehilangan daya saing hingga berujung pada penutupan. 

Oleh sebab itu, meningkatkan kinerja bisnis dan laba merupakan tantangan yang harus dihadapi secara berkelanjutan, termasuk dengan terus berinovasi mengikuti dinamika perekonomian.

Kelancaran Utang dan Piutang
Pengelolaan utang usaha yang baik membantu menjaga ketersediaan stok barang. Pemasok cenderung memberikan kepercayaan lebih apabila kewajiban pembayaran dilakukan secara tepat waktu.

Selain itu, pengaturan piutang juga sangat berpengaruh terhadap arus kas. Semakin lama waktu penagihan dari pelanggan, semakin besar risiko keterlambatan penerimaan kas yang dapat mengganggu operasional.

Akun-Akun Akuntansi yang Digunakan
Jenis akun yang digunakan dalam perusahaan dagang umumnya lebih beragam dibandingkan usaha jasa maupun manufaktur. 

Untuk mempermudah pengelolaan pencatatan keuangan, penggunaan sistem akuntansi terkomputerisasi dapat menjadi solusi yang efektif, terutama bagi perusahaan berskala besar.

Perangkat lunak akuntansi biasanya telah menyediakan struktur akun yang sesuai dengan standar akuntansi, sehingga membantu perusahaan dalam menyusun laporan keuangan secara rapi dan akurat.

Setelah memahami berbagai aspek penting dalam akuntansi perusahaan dagang, langkah berikutnya adalah meninjau kembali siklus operasional usaha secara menyeluruh. 

Kendala yang sering muncul biasanya disebabkan oleh keterbatasan sumber daya manusia yang mampu mengawasi proses ini secara optimal.

Pemanfaatan sistem akuntansi digital dapat menjadi alat bantu untuk meningkatkan produktivitas, sekaligus membuat proses kerja lebih efektif dan efisien.

Contoh Perusahaan Dagang

Perusahaan dagang dapat dikelompokkan berdasarkan skala usahanya, yakni usaha berskala besar dan usaha berskala kecil. Berikut beberapa ilustrasi dari masing-masing kategori tersebut:

Contoh Perusahaan Dagang Skala Besar

  1. PT Supra Boga Lestari Tbk
  2. PT Alfaria Trijaya
  3. PT Lion Super Indo
  4. PT Gudang Garam Tbk
  5. PT Ace Hardware Indonesia Tbk
  6. PT Pioneerindo Gourmet International Tbk
  7. PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk
  8. PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk
  9. PT Indofood Sukses Makmur Tbk
  10. PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk
  11. PT Djarum
  12. PT Astra International Tbk

Contoh Perusahaan Dagang Skala Kecil

  1. Usaha warung makan
  2. Agen penyalur gas LPG
  3. Toko kebutuhan pokok
  4. Gerai penjualan pakaian
  5. Toko peralatan elektronik
  6. Pedagang buah dan sayuran
  7. Penjual bumbu dapur
  8. Toko alat tulis serta layanan fotokopi

Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa kegiatan perdagangan dapat dijalankan baik oleh perusahaan besar dengan jaringan luas maupun oleh usaha kecil yang melayani kebutuhan masyarakat sekitar.

Sebagai penutup, dengan memahami karakteristik perusahaan dagang, pelaku usaha dapat mengelola aktivitas jual beli secara lebih efektif dan berkelanjutan sesuai tujuan bisnis.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index