Pekan Gizi Nasional

Pekan Gizi Nasional Jadi Momentum BGN Dorong Keluarga Pahami Gizi Seimbang

Pekan Gizi Nasional Jadi Momentum BGN Dorong Keluarga Pahami Gizi Seimbang
Pekan Gizi Nasional Jadi Momentum BGN Dorong Keluarga Pahami Gizi Seimbang

JAKARTA - Peringatan Hari Gizi Nasional yang jatuh setiap 25 Januari dimanfaatkan pemerintah untuk kembali menekankan pentingnya peran keluarga dalam membangun kualitas sumber daya manusia sejak dari meja makan.

Melalui Pekan Gizi Nasional, Badan Gizi Nasional (BGN) mengajak masyarakat untuk tidak sekadar makan kenyang, tetapi juga memahami kandungan dan komposisi gizi dari setiap makanan yang dikonsumsi sehari-hari.

Kepala BGN Dadan Hindayana menegaskan bahwa pemahaman gizi seimbang merupakan fondasi utama bagi tumbuh kembang anak dan kesehatan keluarga secara keseluruhan. Menurutnya, kebiasaan memilih makanan dengan komposisi tepat harus dimulai dari lingkungan rumah agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.

“Komposisi gizi itu perlu diperhatikan. Kita perlu tahu makanan itu manfaatnya apa untuk tubuh kita, misalnya ketika makan wortel mestinya kita mulai paham bahwa di situ ada kandungan vitamin A atau serat, maka akan bagus kalau kita konsumsi sekali sehari. Kalau buah, tiga buah yang berbeda warna dalam sehari saja misalnya, jumlah tidak perlu banyak, yang penting komposisi,” katanya dalam siniar yang diikuti di Jakarta.

Gizi Seimbang Jadi Fondasi Kualitas SDM

Dadan menjelaskan bahwa gizi bukan hanya soal kesehatan individu, melainkan penentu kualitas sumber daya manusia suatu bangsa. Negara-negara maju telah menjadikan peningkatan gizi sebagai investasi jangka panjang yang hasilnya dapat dirasakan lintas generasi.

Ia mencontohkan Jepang yang telah menjalankan program peningkatan gizi selama hampir satu abad. Selain Jepang, negara seperti India dan Brasil juga telah lebih dulu menaruh perhatian serius terhadap perbaikan gizi masyarakatnya.

“Mereka sudah bisa memanen hasilnya, kualitas SDM mereka unggul. IQ rata-rata mereka tinggi, pertumbuhan fisik mereka bagus, tinggi dan kuat sehingga mampu melakukan aktivitas seberat apapun, termasuk olahraga,” ujarnya.

Menurut Dadan, Indonesia harus memasuki fase yang sama jika ingin meningkatkan daya saing bangsa. Tantangannya, masih banyak anak Indonesia yang lahir dari orang tua dengan latar belakang pendidikan terbatas, sehingga pemahaman tentang gizi belum merata.

“Indonesia harus masuk ke tahap itu karena anak-anak kita itu masih banyak yang lahir dari orang tua yang pendidikannya rata-rata sembilan tahun,” tambahnya.

Intervensi Pemerintah Lewat Program Makan Bergizi Gratis

Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah terus melakukan intervensi melalui berbagai kebijakan, salah satunya Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini dirancang untuk menjangkau anak-anak yang selama ini tidak memiliki akses terhadap menu gizi seimbang.

Dadan mengungkapkan bahwa sekitar 60 persen anak Indonesia masih belum mampu mengakses makanan bergizi seimbang dan tidak sanggup membeli susu sebagai sumber protein tambahan. Kondisi inilah yang mendorong kehadiran negara untuk memastikan pemenuhan kebutuhan dasar gizi anak.

“Pemerintah hadir untuk memperbaiki generasi masa depan. Anak-anak yang sekarang lahir kan, 20 tahun lagi akan menjadi produktif, sehingga kita perlu membekali agar mereka menjadi generasi yang sehat dan ceria,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa BGN memiliki mandat utama untuk melakukan intervensi pemenuhan gizi di seluruh Indonesia. Namun, keberhasilan program ini tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif keluarga.

“Kita ingin mengajak seluruh masyarakat dan keluarga untuk memperhatikan gizi seimbang,” lanjut Dadan.

Peran Keluarga dalam Keberlanjutan Program Gizi

Dalam konteks Pekan Gizi Nasional, Dadan menekankan bahwa keluarga memegang peran kunci dalam memastikan keberlanjutan manfaat program gizi pemerintah. Program MBG hanya mencakup sebagian waktu konsumsi anak, sementara pola makan di rumah tetap menjadi faktor utama dalam pemenuhan gizi harian.

Pemahaman mengenai komposisi makanan, kata Dadan, harus ditanamkan sejak dini agar anak terbiasa mengenali jenis makanan yang bermanfaat bagi tubuhnya. Tidak diperlukan porsi besar atau bahan mahal, yang terpenting adalah keseimbangan antara sumber energi, protein, vitamin, mineral, dan serat.

Melalui edukasi yang berkelanjutan, pemerintah berharap keluarga dapat menjadi mitra aktif dalam membentuk generasi yang sehat, kuat, dan produktif di masa depan.

Capaian Program Gizi Nasional Sepanjang 2025

Dalam upaya pemenuhan gizi masyarakat, Dadan memaparkan bahwa sepanjang 2025 jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah mencapai 19.188 unit di seluruh Indonesia. Unit-unit tersebut menjadi ujung tombak pelaksanaan Program MBG di berbagai daerah.

“Pada tanggal 31 Desember 2025 kita tutup dengan jumlah SPPG 19.188 dan melayani 55,1 juta penerima manfaat,” ujarnya.

Capaian tersebut didukung oleh penyerapan dana bantuan pemerintah untuk program MBG yang mencapai Rp55,2 triliun. Nilai ini bahkan melampaui target awal sebesar Rp52,2 triliun.

“Dana bantuan pemerintah yang terserap untuk makan bergizi Rp55,2 triliun melebihi target yang harusnya Rp52,2 triliun karena Badan Gizi mendapatkan anggaran biaya tambahan dari Kementerian Keuangan dan total porsi yang kita olah selama satu tahun kurang lebih 3,7 miliar porsi,” ucap Dadan.

Dengan capaian tersebut, BGN optimistis bahwa upaya peningkatan gizi nasional akan memberikan dampak jangka panjang bagi kualitas kesehatan dan produktivitas masyarakat. Pekan Gizi Nasional pun diharapkan menjadi momentum refleksi bersama bahwa

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index