Piala Dunia 2026 Berikan Dampak Ekonomi Rp5,03 Triliun bagi Indonesia

Kamis, 16 Juli 2026 | 18:58:01 WIB
Kadin: Perputaran Ekonomi Piala Dunia 2026 Tembus Rp5,03 Triliun [FOTO: NET].

JAKARTA - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengungkapkan bahwa gelaran Piala Dunia 2026, baik dari kegiatan siaran (on-air) maupun aktivitas masyarakat (off-air), telah menghasilkan perputaran ekonomi langsung dan tidak langsung dengan total mencapai Rp5,03 triliun.

Menurut Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pemberdayaan Ekonomi Daerah, Kukrit Suryo, perhitungan tersebut mencakup beragam aktivitas ekonomi sejak masa persiapan sampai pelaksanaan turnamen. Hal ini meliputi kegiatan penyiaran, belanja iklan, sponsorship, promosi produk, serta kenaikan penjualan merchandise dan perangkat elektronik.

Selain itu, angka tersebut mencakup transaksi di sektor hotel, restoran, dan kafe (Horeka), kegiatan nonton bareng, sampai penjualan UMKM dalam berbagai ajang seperti Festival Rakyat 2026.

Kukrit menjelaskan dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, bahwa manfaat ekonomi Piala Dunia tidak sekadar terfokus pada pertandingan, namun turut menyebar ke berbagai sektor usaha serta kegiatan masyarakat di seluruh Indonesia.

"Piala Dunia 2026 menjadi contoh bagaimana sebuah ajang olahraga internasional mampu menggerakkan aktivitas ekonomi lintas sektor," ujar dia.

Ia menambahkan, Piala Dunia 2026 tidak hanya menguntungkan perusahaan besar dan pemilik merek nasional, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi bagi kafe, restoran, hotel, pelaku industri kreatif, penyedia jasa, pedagang makanan, hingga UMKM di berbagai daerah.

Kukrit menuturkan kesuksesan tersebut membuktikan bahwa ajang olahraga global dapat menciptakan manfaat ekonomi luas jika didukung oleh kolaborasi antara dunia usaha, pemerintah, pemerintah daerah, lembaga penyiaran publik, aparat keamanan, dan masyarakat.

Berdasarkan data Kadin Indonesia, nilai ekonomi tersebut terdiri dari Rp1,76 triliun hasil promosi produk melalui iklan on-air, Rp850 miliar dari aktivitas komersial off-air, sekitar Rp2,4 triliun dari sektor Horeka, serta kontribusi ekonomi melalui kegiatan lainnya seperti Festival Rakyat 2026.

Kukrit menyatakan bahwa di luar perputaran langsung sebesar Rp5,03 triliun, Piala Dunia 2026 juga berpotensi menciptakan efek pengganda ekonomi lanjutan. Hal ini karena turnamen tersebut mendorong investasi pelaku usaha pada proyektor, televisi, set-top box, sistem audio, fasilitas layanan makanan, serta kapasitas tempat duduk.

Dampak ini, imbuhnya, sejalan dengan pertumbuhan sektor penyediaan akomodasi, makanan, dan minuman yang tercatat meningkat 13,14 persen secara tahunan pada Triwulan I 2026, menjadikannya salah satu sektor dengan pertumbuhan tertinggi.

Sementara itu, survei Lokadata pada 7–13 Juli 2026 menunjukkan besarnya dampak ekonomi tersebut didukung tingginya partisipasi masyarakat selama turnamen. Chief Data Officer Lokadata, Suwandi Ahmad, menjelaskan bahwa manfaat ekonomi Piala Dunia mengalir sampai ke tingkat komunitas. 

Sebanyak 78,1 persen responden mengikuti nonton bareng setidaknya sekali, dengan rata-rata pengeluaran Rp51 ribu per kegiatan atau Rp145 ribu per orang selama turnamen.

"Sebagian besar pengeluaran itu digunakan untuk membeli makanan dan minuman, paket data, serta berbagai kebutuhan pendukung lainnya, sehingga manfaat ekonominya banyak dirasakan oleh pelaku UMKM," katanya.

Terkini