800 Unit Hunian Bantaran Rel Senen Tanah Abang Segera Dibangun Pemerintah

Jumat, 03 April 2026 | 13:14:17 WIB
800 Unit Hunian Bantaran Rel Senen Tanah Abang Segera Dibangun Pemerintah

JAKARTA - Upaya pemerintah dalam menyediakan hunian layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) terus dipercepat melalui berbagai skema kolaborasi.

Salah satu langkah konkret yang tengah disiapkan adalah pembangunan ratusan unit hunian di kawasan padat penduduk Jakarta, khususnya bagi warga yang selama ini tinggal di bantaran rel kereta api.

Program ini tidak hanya berfokus pada penyediaan tempat tinggal, tetapi juga menjadi bagian dari solusi jangka panjang untuk penataan kawasan perkotaan yang lebih tertib, aman, dan manusiawi. Dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari kementerian hingga BUMN dan sektor swasta, proyek ini diharapkan dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat yang membutuhkan.

Kolaborasi Pemerintah dan BUMN untuk Hunian MBR

Pemerintah melalui Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) menggandeng sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) untuk merealisasikan pembangunan hunian ini. Menteri PKP, Maruarar Sirait mengatakan, proyek ini akan dibangun di dua lokasi, yakni kawasan Pasar Senen sebanyak 300 unit dan Tanah Abang 500 unit, dengan target penyelesaian serentak pada 15 Juni mendatang.

"Di Senen, tepatnya di Kramat, akan dibangun sekitar 300 unit hunian di atas lahan milik Angkasa Pura. Kemudian di Tanah Abang akan dibangun sekitar 500 unit di lahan milik Kereta Api," ujar Maruara.

Ia menjelaskan, proyek ini merupakan bentuk kolaborasi lintas BUMN yang melibatkan PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan PT Angkasa Pura dalam penyediaan lahan, serta dukungan pihak swasta melalui skema tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), dari sisi dukungan konstruksi.

“Inisiatif ini menekankan kapan selesainya, bukan kapan dimulainya. Ini memberikan kepastian yang sangat penting bagi masyarakat,” katanya.

Fokus Penyelesaian untuk Kepastian Warga

Berbeda dari proyek pembangunan pada umumnya yang sering menitikberatkan pada tahap awal, program ini justru menekankan pada target penyelesaian yang jelas. Pendekatan ini dinilai penting untuk memberikan kepastian kepada masyarakat yang akan menjadi penerima manfaat.

Dengan adanya tenggat waktu yang sudah ditentukan, pemerintah ingin memastikan bahwa pembangunan tidak hanya sekadar wacana, melainkan benar-benar terealisasi sesuai jadwal. Hal ini juga menjadi bentuk komitmen dalam mempercepat penyediaan hunian layak di kawasan perkotaan yang padat.

Selain itu, kepastian waktu penyelesaian diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan publik terhadap program-program perumahan pemerintah, terutama bagi masyarakat yang selama ini masih tinggal di kawasan yang rentan dan tidak layak huni.

Optimalisasi Aset BUMN untuk Kepentingan Publik

Di sisi lain, Kepala Badan Pengelola (BP) BUMN Dony Oskaria menegaskan komitmen BUMN dalam mendukung program penyediaan perumahan bagi masyarakat. Menurutnya, pemanfaatan aset-aset BUMN yang sebelumnya kurang optimal akan difokuskan untuk kepentingan publik, termasuk pembangunan hunian layak.

“Aset-aset yang belum termanfaatkan akan kita optimalkan agar bisa dinikmati masyarakat. Ini bagian dari komitmen bahwa BUMN adalah milik rakyat,” tambahnya.

Langkah ini menjadi strategi penting dalam menjawab keterbatasan lahan di kawasan perkotaan, khususnya di Jakarta. Dengan memanfaatkan aset yang sudah ada, pembangunan hunian dapat dilakukan tanpa harus menghadapi kendala besar terkait pembebasan lahan.

Dony menambahkan, pihaknya saat ini juga tengah melakukan pemetaan terhadap berbagai aset BUMN di kota-kota besar yang memiliki kebutuhan tinggi terhadap perumahan.

Model Baru Percepatan Penyediaan Hunian

Program pembangunan hunian di Senen dan Tanah Abang ini diharapkan menjadi contoh atau model baru dalam percepatan penyediaan rumah di kawasan perkotaan padat. Kolaborasi antara pemerintah, BUMN, dan swasta dinilai mampu mempercepat proses pembangunan sekaligus menekan berbagai hambatan yang selama ini kerap terjadi.

Selain itu, pendekatan ini juga membuka peluang bagi pengembangan program serupa di wilayah lain yang memiliki permasalahan serupa, seperti kawasan padat penduduk dan permukiman tidak layak.

Pemerintah pun berencana untuk terus mendorong model kolaborasi ini ke depan. Bahkan dalam waktu dekat, jajaran kementerian bersama BUMN akan kembali meninjau sejumlah lokasi lain yang berpotensi dikembangkan menjadi hunian berbasis kerja sama lintas sektor.

Dukung Pengurangan Backlog Perumahan Nasional

Pembangunan 800 unit hunian ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam mengurangi backlog perumahan nasional yang hingga kini masih menjadi tantangan besar. Ketersediaan rumah yang belum sebanding dengan kebutuhan masyarakat membuat program seperti ini menjadi sangat penting.

Dengan menyasar masyarakat berpenghasilan rendah, khususnya yang tinggal di bantaran rel, proyek ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup sekaligus memberikan lingkungan yang lebih aman dan layak.

Lebih jauh, penataan kawasan bantaran rel juga berkontribusi terhadap keselamatan dan kelancaran operasional transportasi kereta api. Dengan relokasi warga ke hunian yang lebih layak, risiko kecelakaan dan gangguan operasional dapat diminimalkan.

Secara keseluruhan, proyek ini tidak hanya menghadirkan solusi hunian, tetapi juga menjadi bagian dari penataan kota yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan. Pemerintah optimistis, dengan kolaborasi yang solid dan perencanaan yang matang, program ini dapat berjalan sesuai target dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Terkini