JAKARTA - Sejumlah warga di Sumatera Utara hingga kini masih harus menjalani kehidupan di tempat pengungsian setelah bencana hidrometeorologi melanda wilayah tersebut pada akhir 2025.
Meski berbagai upaya penanganan telah dilakukan oleh pemerintah dan sejumlah pihak terkait, ribuan warga terdampak masih belum dapat kembali ke tempat tinggal mereka.
Situasi ini menunjukkan bahwa dampak bencana tidak hanya dirasakan saat peristiwa terjadi, tetapi juga berlangsung cukup lama setelahnya. Bagi para korban, masa pemulihan menjadi fase yang tidak mudah karena mereka harus beradaptasi dengan kondisi pengungsian sambil menunggu proses penanganan dan pemulihan wilayah terdampak.
Data terbaru dari Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) Sumatera Utara menunjukkan bahwa ribuan warga masih membutuhkan bantuan serta perhatian dari berbagai pihak agar dapat kembali menjalani kehidupan secara normal.
Ribuan Korban Masih Mengungsi
Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) Sumatera Utara mencatat sebanyak 4.843 korban bencana hidrometeorologi yang terjadi pada 27 November 2025 di provinsi itu hingga kini masih berada di pengungsian.
Berdasarkan laporan yang diterima di Medan, Ahad, sebanyak 4.843 jiwa dari 1.412 kepala keluarga (KK) itu masih mengungsi di Kabupaten Tapanuli Tengah.
Jumlah tersebut menunjukkan bahwa sebagian masyarakat yang terdampak bencana masih belum dapat kembali ke rumah mereka. Kondisi ini umumnya terjadi karena kerusakan rumah, lingkungan yang belum aman, atau proses pemulihan yang masih berlangsung di wilayah terdampak.
Data Sementara dari Pusdalops Sumut
Kepala Bidang Penanganan Darurat, Peralatan, dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut Sri Wahyuni Pancasilawati mengatakan laporan tersebut merupakan data sementara yang diterima Pusdalops PB Sumut.
"Data ini merupakan update per 15 Maret 2026 pukul 17.00 WIB," ujarnya.
Data tersebut merupakan hasil pemantauan terbaru yang dilakukan oleh Pusdalops PB Sumatera Utara terhadap perkembangan kondisi para korban bencana di berbagai wilayah.
Informasi ini menjadi dasar bagi pemerintah dan pihak terkait dalam menentukan langkah penanganan lanjutan, termasuk distribusi bantuan dan pengelolaan tempat pengungsian bagi warga terdampak.
Upaya Penanganan Terus Dilakukan
Ia mengatakan berbagai upaya penanganan bencana telah dilakukan masing-masing wilayah dan sejumlah pemangku kebijakan terkait.
"Untuk perkembangan atas bencana akan terus diinformasikan termasuk data-datanya," kata dia.
Upaya penanganan tersebut melibatkan berbagai pihak, baik pemerintah daerah, lembaga penanggulangan bencana, maupun instansi lainnya yang memiliki peran dalam proses tanggap darurat dan pemulihan pascabencana.
Langkah-langkah tersebut mencakup penyaluran bantuan logistik, penyediaan fasilitas pengungsian, serta koordinasi lintas lembaga guna memastikan kebutuhan dasar para korban dapat terpenuhi selama berada di pengungsian.
Bencana Melanda 20 Kabupaten dan Kota
Data Pusdalops Sumut menunjukkan 20 kabupaten/kota di provinsi itu dilanda bencana alam pada akhir tahun lalu.
Ke-20 daerah itu yakni Kota Medan, Kota Tebingtinggi, Kota Binjai, Kota Padangsidimpuan, Kota Sibolga, Kabupaten Deliserdang, Kabupaten Serdangberdagai, Kabupaten Langkat, Kabupaten Humbang Hasundutan, dan Kabupaten Pakpak Bharat.
Selain daerah tersebut, sejumlah wilayah lain di Sumatera Utara juga turut terdampak oleh bencana hidrometeorologi yang terjadi pada akhir tahun 2025.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu bencana yang memberikan dampak cukup luas bagi masyarakat di provinsi tersebut. Dengan banyaknya daerah yang terdampak, proses penanganan membutuhkan koordinasi yang intensif antara pemerintah daerah, lembaga penanggulangan bencana, dan berbagai pihak terkait lainnya.
Kondisi ini juga menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi yang dapat terjadi sewaktu-waktu, terutama pada periode cuaca ekstrem yang berpotensi memicu banjir, tanah longsor, dan berbagai bencana alam lainnya di wilayah Sumatera Utara.