Jasa Marga Prediksi 3,5 Juta Kendaraan Keluar Jakarta Saat Mudik Lebaran 2026, Puncak Arus Diperkirakan 18 Maret 2026

Rabu, 11 Maret 2026 | 11:32:41 WIB
Jasa Marga Prediksi 3,5 Juta Kendaraan Keluar Jakarta Saat Mudik Lebaran 2026, Puncak Arus Diperkirakan 18 Maret 2026

JAKARTA - Mudik Lebaran selalu menjadi momen tahunan yang memicu lonjakan mobilitas masyarakat di berbagai daerah. 

Pergerakan kendaraan dari Jakarta menuju berbagai wilayah diperkirakan kembali meningkat signifikan pada periode Lebaran 2026. PT Jasa Marga (Persero) Tbk. memproyeksikan jutaan kendaraan akan keluar dari ibu kota melalui jaringan jalan tol yang dikelolanya selama masa arus mudik.

Prediksi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas perjalanan masyarakat menuju kampung halaman masih akan didominasi oleh kendaraan pribadi. Dengan tingginya mobilitas tersebut, berbagai persiapan telah dilakukan guna memastikan arus lalu lintas tetap terkendali selama periode libur panjang Lebaran.

Direktur Utama Jasa Marga, Rivan A. Purwantono, menjelaskan bahwa perusahaan memperkirakan sebanyak 3,5 juta kendaraan akan meninggalkan Jakarta melalui jalan tol selama periode mudik Lebaran 2026. Lonjakan ini diperkirakan mulai terlihat sejak pertengahan Maret seiring dimulainya masa libur yang relatif panjang.

"Kita tahu bahwa ada progres yang terus-menerus kami siapkan dalam rangka mengantisipasi 3,5 juta pergerakan kendaraan yang dari Jakarta," ujar Rivan dalam konferensi pers di JMTC.

Pergerakan Kendaraan Diprediksi Mulai 13 Maret 2026

Arus mudik diperkirakan mulai muncul pada Jumat (13/3/2026). Periode tersebut menjadi awal peningkatan pergerakan kendaraan karena banyak masyarakat mulai memanfaatkan waktu libur lebih awal untuk melakukan perjalanan ke kampung halaman.

Jasa Marga menilai momentum libur panjang Lebaran akan mendorong masyarakat melakukan perjalanan lebih cepat dibandingkan hari-hari biasa. Oleh sebab itu, perusahaan telah memastikan bahwa seluruh ruas tol yang beroperasi berada dalam kondisi optimal.

Pihak Jasa Marga juga memastikan bahwa layanan jalan tol telah memenuhi kriteria Standar Pelayanan Minimal (SPM). Upaya ini dilakukan untuk menjamin keamanan, kenyamanan, serta kelancaran perjalanan bagi pengguna jalan selama masa mudik.

Selain itu, pemantauan kondisi lalu lintas dilakukan secara berkelanjutan guna memastikan setiap potensi kepadatan dapat segera ditangani. Hal ini menjadi bagian penting dari strategi pengelolaan arus kendaraan yang diprediksi sangat tinggi pada musim mudik tahun ini.

Sebaran Tujuan Kendaraan dari Jakarta

Dari total 3,5 juta kendaraan yang diproyeksikan meninggalkan Jakarta, sebagian besar diperkirakan menuju wilayah timur Pulau Jawa. Jalur Tol Trans Jawa diprediksi menjadi tujuan utama para pemudik.

Sebaran pergerakan kendaraan menunjukkan sekitar 50 persen kendaraan akan mengarah ke wilayah timur melalui jaringan Tol Trans Jawa. Jalur ini menjadi pilihan utama karena menghubungkan berbagai kota besar di Jawa Tengah hingga Jawa Timur.

Sementara itu, sekitar 28 persen kendaraan diperkirakan menuju arah Merak. Jalur tersebut biasanya dimanfaatkan oleh pemudik yang hendak menyeberang ke Pulau Sumatra melalui Pelabuhan Merak.

Adapun sekitar 20 persen kendaraan lainnya diprediksi bergerak menuju wilayah Bogor dan sekitarnya. Pergerakan ini biasanya didominasi oleh masyarakat yang melakukan perjalanan jarak menengah di kawasan Jabodetabek maupun menuju daerah Jawa Barat.

Rivan menegaskan bahwa arus menuju wilayah timur menjadi perhatian utama dalam pengelolaan lalu lintas selama mudik Lebaran.

"Nah yang mesti diantisipasi adalah yang 50% ke Timur," pungkas Rivan.

Perkiraan Puncak Arus Mudik dan Arus Balik

Selain memproyeksikan jumlah kendaraan, Jasa Marga juga memprediksi waktu puncak arus mudik dan arus balik Lebaran. Informasi ini penting agar masyarakat dapat merencanakan perjalanan dengan lebih baik.

Puncak arus mudik diperkirakan terjadi pada 18 Maret 2026. Pada tanggal tersebut, volume kendaraan diprediksi mencapai titik tertinggi karena banyak pemudik memanfaatkan waktu terakhir sebelum hari raya.

Sementara itu, puncak arus balik diperkirakan terjadi pada 24 Maret 2026 atau H+3 Lebaran. Pada periode ini masyarakat mulai kembali ke kota asal setelah merayakan hari raya bersama keluarga di kampung halaman.

Melihat potensi kepadatan tersebut, Jasa Marga mengimbau masyarakat agar mengatur waktu perjalanan secara lebih fleksibel. Pemudik disarankan menghindari hari-hari puncak untuk meminimalkan risiko kemacetan.

Dengan perencanaan perjalanan yang lebih baik, arus kendaraan di jalan tol diharapkan dapat terdistribusi lebih merata sepanjang periode mudik.

Strategi Antisipasi dan Kebijakan Pemerintah

Untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan selama musim mudik, Jasa Marga melakukan pemantauan lalu lintas secara real-time. Pemantauan ini memungkinkan operator jalan tol segera mengambil langkah rekayasa lalu lintas apabila terjadi kepadatan atau stagnasi kendaraan.

Koordinasi juga dilakukan secara intensif dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk kepolisian, Kementerian Perhubungan, serta instansi terkait lainnya. Sinergi ini bertujuan menjaga kelancaran arus lalu lintas selama periode libur Lebaran.

Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan sejumlah kebijakan untuk mengurangi potensi kepadatan kendaraan di jalur mudik. Salah satu kebijakan yang diusulkan adalah penerapan sistem bekerja dari mana saja atau work from anywhere (WFA).

Pemerintah mengusulkan agar WFA diberlakukan selama lima hari yang mencakup periode arus mudik maupun arus balik. Untuk fase arus mudik, kebijakan ini direncanakan berlaku pada 16 hingga 17 Maret 2026.

Dengan adanya kebijakan tersebut, masyarakat diharapkan memiliki fleksibilitas lebih besar dalam menentukan waktu perjalanan. Hal ini diharapkan dapat membantu mengurangi kepadatan lalu lintas yang biasanya terjadi secara bersamaan.

Sementara itu, Kementerian Perhubungan juga memproyeksikan bahwa total pergerakan masyarakat selama masa Angkutan Lebaran 2026 mencapai 143,91 juta orang atau sekitar 50,60 persen dari total penduduk Indonesia.

Pergerakan terbesar pemudik diperkirakan berasal dari Jawa Barat sebanyak 30,97 juta orang. Disusul oleh DKI Jakarta dengan 19,93 juta orang serta Jawa Timur sebanyak 17,12 juta orang.

Adapun dari sisi tujuan perjalanan, arus mudik terbesar diprediksi menuju Jawa Tengah dengan jumlah sekitar 38,71 juta orang. Setelah itu disusul Jawa Timur sebanyak 27,29 juta orang dan Jawa Barat sekitar 25,09 juta orang.

Lonjakan mobilitas ini menunjukkan bahwa tradisi mudik masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, kesiapan infrastruktur transportasi menjadi faktor krusial untuk memastikan perjalanan masyarakat berlangsung aman, nyaman, dan lancar selama musim Lebaran.

Terkini