JAKARTA - Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga memperbanyak ibadah di malam hari.
Setelah rangkaian shalat tarawih dan witir selesai ditunaikan, umat Islam dianjurkan untuk tidak segera beranjak. Ada amalan lanjutan yang memiliki nilai spiritual mendalam, yakni berdzikir dan berdoa. Tradisi ini hidup di berbagai kalangan umat Islam Indonesia, meskipun terdapat sedikit perbedaan dalam praktik dan susunannya.
Perbedaan tersebut termasuk dalam menginterpretasikan bacaan dzikir setelah shalat tarawih yang dianjurkan dalam Islam. Jurnal Melintasi Perbedaan: Analisis Terhadap Variasi Rakaat Salat Tarawih di Antara Pengikut NU dan Muhammadiyah karya Ahmad Didi Riyadi dan Noor Hasanah membahas perbedaan jumlah rakaat antara pengikut Nahdlatul Ulama (NU) yang umumnya melaksanakan 20 rakaat dan Muhammadiyah yang melaksanakan 8 rakaat, serta faktor-faktor teologis dan sosiologis yang melatarbelakanginya. Amalan dzikir setelah sholat tarawih juga menjadi pembahasan yang penting.
Melalui studi mendalam, kita dapat memahami bahwa praktik keagamaan yang beragam dalam bingkai ikhtilaf (perbedaan pendapat) dan kerangka toleransi, dapat menjadi landasan bagi kita untuk mengkaji aspek lain dari ibadah tarawih, termasuk dzikir setelahnya.
Bacaan Dzikir Setelah Shalat Tarawih yang Dianjurkan
Merujuk Himpunan Putusan Tarjih (HPT) dan buku "Tuntunan Ramadlan" yang disusun oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, setelah selesai shalat witir (yang biasanya dilaksanakan setelah tarawih) disunnahkan berdzikir dengan suara nyaring sebagai berikut:
سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ
Latin: Subhānal malikil quddūs
Artinya: "Maha Suci Allah Yang Maha Merajai dan Yang Maha Bersih." (Dibaca 3 kali)
رَبِّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوحِ
Latin: Rabbil malā'ikati war rūh
Artinya: "Yang menguasai para Malaikat dan Ruh (Jibril)." (Dibaca 1 kali)
Bacaan ini didasarkan pada beberapa hadits shahih, di antaranya:
عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْوِتْرِ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى، وَقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، فَإِذَا سَلَّمَ قَالَ: سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ
Artinya: "Diriwayatkan dari Ubay bin Ka'ab, bahwa Rasulullah SAW ketika shalat witir membaca surat Al-A'la, Al-Kafirun, dan Al-Ikhlas. Kemudian apabila telah selesai mengucapkan salam, beliau membaca 'Subhanal malikil quddus' tiga kali." (HR. An-Nasa'i no. 1729, Kitab Qiyamu al-Lail)
Dalam riwayat lain disebutkan:
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنَّهُ كَانَ يُوتِرُ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى، وَقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، وَيَقُولُ بَعْدَ مَا يُسَلِّمُ: سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ يَرْفَعُ بِهَا صَوْتَهُ
Latin: 'An Abdirrahmāni bin Abzā 'an nabiyyi shallallāhu 'alaihi wa sallam annahū kāna yūtiru bi sabbiḥisma rabbikal a'lā, wa qul yā ayyuhal kāfirūn, wa qul huwallāhu aḥad, wa yaqūlu ba'da mā yusallimu: subhānal malikil quddūsi tsalātsa marrātin yarfa'u bihā shautah
Artinya: "Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Abza dari Nabi SAW, sesungguhnya beliau melakukan shalat witir dengan membaca surat Al-A'la, Al-Kafirun, dan Al-Ikhlas. Apabila telah selesai salam, beliau membaca 'Subhanal malikil quddus' tiga kali dengan meninggikan suaranya." (HR. An-Nasa'i no. 1750).
Imam Al-Baghawi dalam kitabnya Syarh As-Sunnah menjelaskan bahwa bacaan ini merupakan bentuk pengagungan kepada Allah sebagai Raja dan Yang Maha Suci dari segala kekurangan. Adapun tambahan "Rabbil malaikati war ruh" menunjukkan keesaan Allah dalam menguasai seluruh makhluk-Nya, termasuk para malaikat dan Jibril.
Dzikir Setelah Shalat Tarawih Khas NU
Dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU), terdapat perbedaan mengenai bacaan dzikir setelah shalat tarawih yang dianjurkan. Bacaan dzikir ini lazimnya diamalkan setelah shalat tarawih sebelum witir, dan atau setelah witir. Berikut adalah bacaannya:
Istighfar
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ
Latin: Astaghfirullāhal 'adhīm.
Artinya: "Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung." (Dibaca 3 kali).
Tasbih, Tahmid, dan Takbir
سُبْحَانَ اللهِ (33×)
Latin: Subhānallāh
Artinya: "Maha Suci Allah".
الْحَمْدُ لِلَّهِ (33×)
Latin: Alhamdulillāh
Artinya: "Segala puji bagi Allah".
اللهُ أَكْبَرُ (33×)
Latin: Allāhu Akbar
Artinya: "Allah Maha Besar".
Tahlil dan Doa
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Latin: Lā ilāha illallāhu wahdahū lā syarīka lah, lahul mulku wa lahul hamdu yuhyī wa yumītu wa huwa 'alā kulli syai'in qadīr
Artinya: "Tidak ada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dia yang menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu."
Doa Setelah Shalat Tarawih
Doa yang sangat masyhur dibaca setelah shalat tarawih di kalangan NU adalah Doa Kamilin. Berikut teks lengkapnya:
اللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا بِالْإِيْمَانِ كَامِلِيْنَ، وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنَ، وَلِلصَّلَاةِ حَافِظِيْنَ، وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ، وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ، وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ، وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ، وَعَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضِيْنَ، وَفِي الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ، وَفِي الْآخِرَةِ رَاغِبِيْنَ، وَبِالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ، وَلِلنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنَ، وَعَلَى الْبَلَاءِ صَابِرِيْنَ، وَتَحْتَ لِوَاءِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ، وَعَلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْن، وَإِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ، وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ، وَعَلَى سَرِيْرِ الْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ، وَبِحُوْرٍ عِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ، وَمِنْ سُنْدُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ، وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِيْنَ، وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفًّى شَارِبِيْنَ، بِأَكْوَابٍ وَأَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِنْ مَعِيْنٍ مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيْقًا، ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا، اللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا فِي هٰذِهِ لَيْلَةِ الشَّهْرِ الشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْأَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Latin dan arti sebagaimana tercantum dalam naskah asli.
Landasan dan Keutamaan Dzikir Setelah Tarawih
Meski terdapat perbedaan dalam bacaan dzikir dan doa setelah tarawih, semua madzhab mengacu pada dalil anjuran dzikir setelah sholat yang sama.
Al-Qur'an Surah An-Nisa Ayat 103:
فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ
Latin: Fa idza qadhaîtumush shalâta fadzkurullâha qiyâman wa qu'ûdan wa 'alâ junubikum.
Artinya: "Apabila kamu telah menyelesaikan shalat, berdzikirlah kepada Allah (dengan mengingat dan menyebut-Nya), baik ketika kamu berdiri, duduk, maupun berbaring." (QS. An-Nisa: 103).
Dalil Hadits:
مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ
Latin: Matsalul ladzî yadzkuru rabbahu walladzî lâ yadzkuru rabbahu matsâlul hayyi wal mayyiti.
Artinya: "Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Tuhannya dan orang yang tidak berdzikir kepada Tuhannya adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati." (HR. Bukhari no. 6407).
Dzikir setelah sholat tarawih memiliki sejumlah keutamaan yang sangat agung, di antaranya mendekatkan diri kepada Allah SWT, menenangkan hati, mendapatkan ampunan dosa, menghidupkan hati, memperoleh keberkahan malam Ramadhan, menjaga konsistensi ibadah, serta menjadi waktu mustajab untuk dikabulkannya doa.
Dengan memahami ragam bacaan, dalil, dan keutamaannya, umat Islam dapat mengamalkan dzikir setelah tarawih dengan penuh keyakinan dan saling menghormati perbedaan yang ada.