JAKARTA - Dinamika pasar modal Indonesia kembali dikejutkan oleh pergerakan impresif dari salah satu pemain utama di sektor jasa pertambangan. PT Petrosea Tbk (PTRO) kini menjadi pusat perhatian para investor setelah berhasil membalikkan keadaan dari tren penurunan tajam menjadi penguatan yang signifikan. Fenomena "rebound" ini menjadi sinyal kuat mengenai kepercayaan pasar terhadap fundamental perusahaan yang bernaung di bawah payung grup besar nasional tersebut. Bagi para pemodal, terutama investor ritel, memahami anatomi bisnis dan kesehatan finansial PTRO menjadi krusial di tengah volatilitas sektor energi yang dinamis di awal tahun 2026 ini.
Momentum Kebangkitan Saham PTRO di Lantai Bursa
Setelah sempat berada dalam tekanan jual yang cukup berat sejak pertengahan Januari 2026, saham PTRO menunjukkan taji pada awal Februari. Penurunan yang sempat membawa harga saham dari kisaran Rp12.900 merosot hingga ke level Rp6.000, kini mulai terobati. Pada perdagangan Rabu, 11 Februari 2026, saham ini mencatatkan lonjakan tajam sebesar 13,39% menuju level Rp6.775.
Tren positif ini tidak berhenti di situ. Pada perdagangan keesokan harinya, Kamis, 12 Februari 2026, saham PTRO kembali menguat sekitar 2,8% ke posisi Rp7.325. Lonjakan harga ini dipicu oleh akumulasi yang dilakukan oleh para investor serta masuknya saham ini ke dalam daftar pantau (watchlist) berbagai perusahaan sekuritas. Selain itu, sentimen positif dari indeks MSCI dan pemulihan operasional perseroan menjadi katalis utama yang mengubah warna "merah" menjadi "hijau" pada papan perdagangan PTRO.
Eksplorasi Lini Usaha Terintegrasi Selama Setengah Abad
PT Petrosea Tbk bukanlah pemain baru di industri ini. Dengan rekam jejak lebih dari 50 tahun, perusahaan telah bertransformasi menjadi entitas multi-disiplin yang melayani berbagai kebutuhan di sektor energi dan pertambangan. Lini usaha perseroan mencakup cakupan yang sangat luas dan terintegrasi:
Kontrak Pertambangan: Ini adalah tulang punggung pendapatan perusahaan. Petrosea menyediakan jasa penambangan komprehensif mulai dari pemindahan lapisan tanah penutup (overburden removal), pengeboran, peledakan, hingga pengangkutan komoditas seperti batu bara, nikel, dan emas.
Engineering, Procurement & Construction (EPC): Divisi ini fokus pada pembangunan infrastruktur fisik pertambangan serta fasilitas pengolahan industri yang kompleks.
Jasa Minyak dan Gas (Migas): Melayani kebutuhan operasional baik di darat (onshore) maupun lepas pantai (offshore), termasuk konstruksi laut.
Logistik dan Jasa Pendukung: Mengelola rantai pasok dan transportasi, serta merambah ke sektor jasa keuangan dan asuransi melalui entitas anak.
Kekuatan bisnis Petrosea didukung oleh kemitraan strategis dengan klien-klien raksasa dunia seperti Freeport, Kideco, dan BP Berau, yang memastikan keberlanjutan proyek dalam jangka panjang.
Struktur Manajemen di Bawah Kendali Grup Barito Pacific
Keberhasilan strategi pemulihan PTRO tidak lepas dari jajaran manajemen yang berpengalaman. Berada di bawah kendali grup Prajogo Pangestu melalui Barito Pacific, susunan manajemen per Februari 2026 berdasarkan RUPS terakhir tahun 2025 adalah sebagai berikut:
Dewan Komisaris
Presiden Komisaris: Osman Sitorus
Komisaris: Djauhar Maulidi, Erwin Ciputra, Prof. Ginandjar Kartasasmita, Jend. Pol. (Purn.) Drs. Sutanto, dan Setia Untung Arimuladi S.H., M.Hum.
Dewan Direksi
Presiden Direktur: Michael W.F. Watt.
Direktur: Kartika Hendrawan (Chief Investment Officer), Ruddy Santoso (Direktur Keuangan/CFO), Iman Darus Hikhman, dan Meinar Kusumastuti.
Kombinasi antara figur-figur ahli di bidang hukum, keamanan, dan profesional industri pertambangan memberikan fondasi tata kelola perusahaan yang kokoh.
Kinerja Keuangan yang Solid pada Kuartal III 2025
Landasan utama dari kepercayaan investor saat ini adalah laporan keuangan yang menunjukkan pertumbuhan yang impresif. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk periode sembilan bulan pertama (9M) tahun 2025, PTRO berhasil membukukan angka-angka yang sangat sehat. Pendapatan neto perseroan tercatat mencapai US$603,84 juta, atau tumbuh sebesar 18,42% secara tahunan (year on year).
Lonjakan paling mencolok terlihat pada laba bersih yang mencapai US$6,93 juta (sekitar Rp115,7 miliar), sebuah lompatan drastis sebesar 141,87% dibandingkan periode yang sama di tahun 2024 yang hanya sebesar US$2,86 juta. EBITDA yang tercatat di angka US$182,97 juta mencerminkan kemampuan operasional yang sangat kuat dalam menghasilkan arus kas, sementara total aset perusahaan kini menyentuh angka US$1,39 miliar.
Efisiensi dan Kontribusi Segmen EPC Offshore
Kenaikan laba bersih yang signifikan ini tidak terjadi secara kebetulan. Hal ini didorong oleh kontribusi besar dari segmen EPC offshore serta kontrak-kontrak pertambangan baru yang memiliki margin lebih baik. Di sisi lain, manajemen PTRO juga berhasil melakukan efisiensi pada biaya operasional, sehingga setiap pertumbuhan pendapatan dapat dikonversi menjadi keuntungan bersih secara lebih optimal.
Kembalinya minat pasar terhadap saham PTRO di awal Februari 2026 menunjukkan bahwa investor mulai mengapresiasi nilai intrinsik perusahaan setelah sempat mengalami koreksi teknis yang dalam. Dengan fundamental yang kuat dan dukungan dari ekosistem Barito Pacific, Petrosea diprediksi akan terus menjadi pemain kunci dalam geliat industri tambang nikel, emas, dan batu bara di masa depan.