Pergerakan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Kamis 22 Januari 2026

Kamis, 22 Januari 2026 | 09:29:24 WIB
Pergerakan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Kamis 22 Januari 2026

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah pada Kamis, 22 Januari 2026, berada di persimpangan berbagai sentimen global dan domestik yang saling berkelindan.

Meski sempat mencatat penguatan pada perdagangan sebelumnya, rupiah masih menghadapi tekanan yang membuat pergerakannya cenderung fluktuatif dengan potensi pelemahan terbatas. Pasar keuangan global yang dibayangi ketegangan geopolitik serta dinamika kebijakan ekonomi dalam negeri menjadi faktor utama yang memengaruhi arah rupiah sepanjang hari ini.

Pelaku pasar mencermati perkembangan terbaru dari Amerika Serikat dan Eropa, sekaligus menimbang langkah-langkah kebijakan fiskal dan moneter Indonesia yang dirancang untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

Kinerja Rupiah pada Perdagangan Sebelumnya

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah ditutup menguat sebesar 0,13 persen atau naik 22 poin ke level Rp16.934 per dolar AS pada Rabu, 21 Januari 2026. Penguatan rupiah tersebut terjadi seiring dengan melemahnya indeks dolar AS sebesar 0,08 persen ke posisi 98,56.

Meski mencatatkan penguatan, penguatan rupiah dinilai masih bersifat teknikal dan belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan sentimen jangka menengah. Pelaku pasar tetap berhati-hati karena potensi tekanan eksternal masih cukup besar, terutama dari arah kebijakan dan pernyataan politik global yang berpotensi memicu volatilitas pasar.

Sentimen Global: Geopolitik dan Risiko Perdagangan

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menilai sentimen global masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi pergerakan rupiah. Salah satu isu utama datang dari pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang bersikeras untuk menguasai Greenland dengan alasan kepentingan keamanan di kawasan Arktik.

Selain itu, Trump juga kembali melontarkan ancaman pengenaan tarif terhadap negara-negara Eropa. Langkah tersebut dinilai dapat memperburuk ketegangan perdagangan global yang sebelumnya sudah rapuh. Kondisi ini membuat pasar keuangan global berada dalam tekanan, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah.

Ketidakpastian geopolitik dan perdagangan internasional tersebut mendorong investor global cenderung bersikap defensif, sehingga aliran modal berpotensi bergerak ke aset-aset safe haven dan menekan mata uang emerging market.

Kebijakan Fiskal Pemerintah Dorong Pemulihan Ekonomi

Dari sisi domestik, sentimen datang dari pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menegaskan bahwa pelebaran defisit fiskal menjadi 2,92 persen dalam APBN 2025—mendekati batas maksimal 3 persen—merupakan langkah strategis untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional.

Purbaya menjelaskan bahwa kebijakan tersebut bersifat countercyclical, yang bertujuan membalikkan tren perlambatan ekonomi yang membayangi Indonesia sepanjang 2025. Menurutnya, intervensi fiskal yang agresif diperlukan untuk menghidupkan kembali sisi permintaan dan penawaran di dalam negeri.

Tanpa dorongan optimal dari APBN, Purbaya menilai perekonomian nasional berisiko menghadapi tekanan yang lebih dalam. Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah siap menggunakan instrumen fiskal secara aktif demi menjaga momentum pertumbuhan, meski di sisi lain dapat memengaruhi persepsi pasar terhadap stabilitas fiskal.

Sikap Bank Indonesia Jaga Stabilitas Rupiah

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) tetap mempertahankan kebijakan moneternya dengan menahan suku bunga acuan BI Rate di level 4,75 persen pada Desember 2025. Selain itu, suku bunga deposit facility dipertahankan sebesar 3,75 persen dan suku bunga lending facility tetap di level 5,5 persen.

Keputusan tersebut dinilai konsisten dengan upaya BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global. BI juga menegaskan bahwa kebijakan moneter dan makroprudensial terus dioptimalkan untuk memperkuat efektivitas transmisi kebijakan, menjaga stabilitas keuangan, serta mendukung pertumbuhan ekonomi ke depan.

Meski menahan suku bunga, BI menyatakan bahwa ruang penurunan suku bunga masih terbuka, seiring dengan perkembangan inflasi dan stabilitas eksternal. Pernyataan ini memberikan sinyal fleksibilitas kebijakan, yang diharapkan dapat meredam tekanan terhadap rupiah tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi.

Proyeksi Pergerakan Rupiah Hari Ini

Dengan mempertimbangkan seluruh sentimen tersebut, Ibrahim Assuaibi memproyeksikan bahwa pada perdagangan Kamis (22/1/2026), nilai tukar rupiah akan bergerak fluktuatif. Rupiah diperkirakan berada pada kisaran Rp16.930 hingga Rp16.950 per dolar AS, dengan kecenderungan ditutup melemah secara terbatas.

Fluktuasi tersebut mencerminkan sikap wait and see pelaku pasar yang masih menimbang keseimbangan antara tekanan global dan upaya stabilisasi dari otoritas domestik. Selama tidak muncul sentimen negatif baru yang signifikan, pelemahan rupiah diperkirakan masih dalam rentang yang terkendali.

Pergerakan rupiah pada hari ini menjadi cerminan dinamika global dan domestik yang saling memengaruhi. Di satu sisi, tekanan geopolitik dan risiko perdagangan global masih membayangi. Di sisi lain, langkah pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi memberikan bantalan bagi rupiah agar tidak tertekan lebih dalam. Dalam kondisi tersebut, pasar akan terus mencermati perkembangan global dan kebijakan dalam negeri sebagai penentu arah rupiah ke depan.

Terkini