Asei Siapkan Strategi Jaga Laba Berkelanjutan di Tengah Tantangan 2026

Rabu, 21 Januari 2026 | 10:54:45 WIB
Asei Siapkan Strategi Jaga Laba Berkelanjutan di Tengah Tantangan 2026

JAKARTA  - Memasuki tahun 2026, PT Asuransi Asei Indonesia menatap dinamika industri asuransi dengan pendekatan yang lebih terukur.

Alih-alih mengejar ekspansi agresif, perusahaan menempatkan keberlanjutan laba sebagai prioritas utama. Langkah ini diambil di tengah pemulihan ekonomi yang masih berlangsung, disertai berbagai tantangan global yang berpotensi memengaruhi kinerja sektor keuangan, termasuk asuransi.

Direktur Utama Asuransi Asei, Dody Dalimunthe, menegaskan bahwa perusahaan melihat 2026 sebagai momentum untuk memperkuat fondasi bisnis. Strategi yang disiapkan diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara peluang pertumbuhan dan prinsip kehati-hatian, sehingga kinerja laba dapat tumbuh secara sehat dan berkelanjutan.

Pemulihan Perdagangan Dorong Peluang Pertumbuhan

Salah satu peluang utama yang diidentifikasi Asei berasal dari membaiknya aktivitas perdagangan dan logistik. Pemulihan tersebut dinilai memberikan dampak positif terhadap sejumlah lini bisnis utama perusahaan, khususnya asuransi perdagangan, asuransi marine cargo, serta produk asuransi terkait lainnya.

Menurut Dody, peningkatan aktivitas ekspor-impor dan pergerakan barang menjadi sinyal positif bagi kinerja premi di sektor tersebut. Kondisi ini membuka ruang bagi Asei untuk mengoptimalkan potensi pasar yang sebelumnya sempat tertekan akibat perlambatan ekonomi global.

“Peluangnya berasal dari pemulihan aktivitas perdagangan dan logistik yang berdampak positif pada asuransi perdagangan, asuransi marine cargo, dan lini usaha asuransi terkait lainnya,” kata Dody.

Pemanfaatan peluang ini dilakukan dengan tetap memperhatikan kualitas risiko, sehingga pertumbuhan yang dicapai tidak mengorbankan stabilitas keuangan perusahaan.

Kebutuhan Penjaminan Kredit Jadi Penopang Lini Usaha

Selain sektor perdagangan, Asei juga melihat peluang signifikan dari meningkatnya kebutuhan penjaminan dan asuransi kredit. Kebutuhan ini dinilai krusial dalam menjaga likuiditas dan mendukung pembiayaan sektor riil, terutama pada proyek-proyek strategis nasional serta pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Asei memandang bahwa asuransi kredit memiliki peran penting dalam mendukung stabilitas pembiayaan, terutama di tengah kondisi ekonomi global yang masih diliputi ketidakpastian. Dengan manajemen risiko yang tepat, lini usaha ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif terhadap kinerja laba perusahaan.

“Peluang lainnya, yaitu adanya kebutuhan penjaminan dan asuransi kredit dalam rangka menjaga likuiditas dan pembiayaan sektor riil, khususnya pada proyek strategis serta UMKM,” ujar Dody.

Penguatan Pengawasan Dorong Disiplin Industri

Di sisi lain, Asei menilai adanya perbaikan disiplin industri asuransi secara umum turut menjadi faktor pendukung kinerja. Penguatan pengawasan yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terhadap praktik underwriting dan kecukupan cadangan dinilai mampu menciptakan iklim usaha yang lebih sehat.

Dody menyebut, peningkatan pengawasan tersebut mendorong pelaku industri untuk lebih disiplin dalam seleksi risiko dan pengelolaan cadangan teknis. Hal ini secara tidak langsung membantu menciptakan persaingan yang lebih seimbang dan berkelanjutan.

“Selain itu, adanya perbaikan disiplin industri secara umum, seiring penguatan pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terhadap praktik underwriting dan kecukupan cadangan,” katanya.

Dengan lingkungan industri yang lebih tertata, Asei optimistis dapat menjalankan strategi bisnisnya secara lebih efektif.

Tantangan Risiko dan Tekanan Margin Masih Membayangi

Meski peluang terbuka, Asei juga mencermati sejumlah tantangan yang berpotensi memengaruhi kinerja laba pada 2026. Salah satu tantangan utama adalah volatilitas risiko kredit dan klaim, khususnya pada sektor-sektor yang sensitif terhadap perlambatan ekonomi global dan dinamika geopolitik.

Selain itu, tekanan margin akibat kompetisi tarif di industri asuransi juga menjadi perhatian. Kondisi ini dapat berdampak negatif apabila tidak diimbangi dengan kualitas seleksi risiko yang memadai.

“Tantangannya yaitu adanya volatilitas risiko kredit dan klaim, khususnya pada sektor-sektor yang sensitif terhadap perlambatan ekonomi global dan dinamika geopolitik,” jelas Dody.

Ia juga menambahkan bahwa proses transisi dan penyesuaian internal, termasuk streamlining Badan Usaha Milik Negara (BUMN) asuransi serta tuntutan transformasi organisasi, berpotensi menimbulkan tekanan jangka pendek terhadap kinerja.

“Selain itu, transisi dan penyesuaian internal, termasuk proses streamlining BUMN asuransi dan tuntutan transformasi organisasi, dapat menimbulkan tekanan jangka pendek,” ucapnya.

Strategi Asei Prioritaskan Kualitas Portofolio

Menghadapi kombinasi peluang dan tantangan tersebut, Asei menegaskan bahwa strategi 2026 akan difokuskan pada perbaikan fundamental kinerja underwriting dan penguatan kualitas portofolio. Perusahaan tidak menjadikan ekspansi volume premi sebagai tujuan utama, melainkan menitikberatkan pada kualitas dan keberlanjutan laba.

Dody menegaskan bahwa manajemen telah menetapkan target laba yang realistis dan bertahap, dengan orientasi jangka panjang. “Manajemen Asei menetapkan target laba yang realistis dan bertahap, dengan prioritas utama pada keberlanjutan atau sustainability laba, bukan pertumbuhan agresif jangka pendek,” tuturnya.

Sebagai gambaran, berdasarkan laporan keuangan di situs resmi perusahaan, Asei mencatatkan pendapatan premi bruto sebesar Rp674,17 miliar pada 2025. Sementara itu, hasil investasi perusahaan tercatat sebesar Rp26,86 miliar pada tahun yang sama.

Dengan pendekatan yang lebih berhati-hati namun terarah, Asei optimistis mampu menjaga kinerja laba di 2026 sekaligus memperkuat posisi bisnisnya di tengah dinamika industri asuransi nasional.

Terkini