JAKARTA - Pergerakan pasar kripto hari ini menunjukkan dinamika yang cukup menarik bagi para investor, terutama Bitcoin (BTC) yang masih bertahan di atas level psikologis 90.000 dollar AS.
Dalam 24 jam terakhir, BTC tercatat turun tipis 0,15% di posisi 91.270 dollar AS atau sekitar Rp 1.519.925.611. Meski melemah, dominasi pasar Bitcoin tetap kuat di angka 59,15%, sementara total kapitalisasi pasar aset kripto turun 0,70% menjadi 3,08 triliun dollar AS, menandakan volatilitas pasar yang wajar.
Investor dan trader kini fokus memantau pergerakan harian serta tren mingguan Bitcoin dan altcoin. Meski terjadi koreksi minor, pergerakan ini memberikan sinyal bagi investor jangka panjang untuk menilai peluang HODL atau trading jangka pendek.
Pasar kripto masih dipengaruhi oleh sentimen global, termasuk yield Treasury AS dan fluktuasi saham Wall Street yang beragam, sehingga kewaspadaan tetap diperlukan.
Top Gainers dan Losers Pasar Kripto
Dalam 24 jam terakhir, beberapa aset kripto mencatatkan lonjakan signifikan maupun koreksi. ISLM menjadi top gainer dengan kenaikan 345%, diikuti Pippin (PIPPIN) naik 32,11% dan Frax (FXS) menguat 30,25%. Lonjakan ini menandakan adanya sentimen positif atau permintaan pasar yang tinggi terhadap aset-aset tertentu.
Sementara itu, beberapa kripto mencatatkan koreksi tajam. Aelf (ELF) melemah 22,05%, Epic Chain (EPIC) turun 15,42%, dan Switchboard Protocol (SWTCH) terkoreksi 13,60%. Pergerakan ini menunjukkan bahwa risiko volatilitas tetap tinggi, terutama bagi altcoin yang masih berada di fase pertumbuhan pasar. Investor disarankan untuk selalu memantau likuiditas dan berita terkait aset kripto yang mereka miliki.
Arus Dana dan ETF Kripto
Tren arus keluar dana (outflow) juga menjadi perhatian di pasar kripto, terutama melalui instrumen ETF. Pada perdagangan Kamis (8/1), Bitcoin ETF mencatat net outflow sebesar 486,08 juta dollar AS, menjadi eksodus harian terbesar sepanjang tahun 2026. XRP ETF juga mencatat sejarah baru dengan net outflow perdana sebesar 40,80 juta dollar AS.
Sebaliknya, Solana (SOL) ETF menjadi satu-satunya yang mencatat arus masuk dengan inflow 1,97 juta dollar AS, sepenuhnya didorong oleh instrumen BSOL milik Bitwise. Kondisi ini menunjukkan bagaimana ETF dapat memengaruhi pergerakan harga dan likuiditas kripto, sekaligus menjadi indikator sentimen investor institusi terhadap aset digital tertentu.
Profil Investor Kripto Indonesia
Laporan Indonesia Crypto & Web3 Industry Report 2025, hasil kolaborasi ICN, Coinvestasi, dan ABI, memperlihatkan profil investor lokal yang semakin matang. Sebanyak 93,6% responden masih mengandalkan Centralized Exchange (CEX) sebagai gerbang utama investasi, sementara penggunaan DEX dan non-custodial wallet masih terbatas.
Secara geografis, investor kripto terkonsentrasi di Jawa dan Bali sebanyak 77,6%, didukung oleh infrastruktur digital yang matang. Bitcoin tetap menjadi aset favorit, diikuti USDT, Ethereum, Solana, dan BNB. Mayoritas investor (58,2%) memilih strategi HODL atau menahan aset untuk jangka panjang, jauh lebih besar dibanding trader jangka pendek yang hanya 20,2%.
Strategi Pergerakan Pasar Hari Ini
Hari ini, Bitcoin berpotensi bergerak di kisaran 90.000–94.000 dollar AS, sementara Ethereum diproyeksikan bergerak di 3.150–3.300 dollar AS. Pergerakan ini masih dipengaruhi oleh sentimen makroekonomi global, termasuk tingkat suku bunga, inflasi, serta kinerja pasar saham utama.
Investor disarankan menyesuaikan strategi trading, baik HODL maupun short-term trading, sesuai dengan toleransi risiko dan volatilitas pasar.
Dengan dominasi Bitcoin yang masih tinggi, aset ini menjadi acuan utama bagi pergerakan pasar kripto global. Altcoin cenderung mengikuti arah BTC, meski ada lonjakan individual seperti ISLM atau koreksi seperti ELF. Investor perlu memperhatikan spread harga, likuiditas, dan faktor eksternal yang dapat memengaruhi volatilitas aset digital.
Peluang dan Risiko Investasi Kripto
Pasar kripto masih menawarkan peluang besar sekaligus risiko tinggi. Lonjakan harga altcoin tertentu memberikan kesempatan profit cepat, namun fluktuasi tajam menuntut strategi manajemen risiko. Investor institusi maupun ritel disarankan untuk memanfaatkan informasi ETF, sentimen pasar, dan data historis pergerakan harga sebagai acuan pengambilan keputusan.
Selain itu, diversifikasi portofolio menjadi kunci bagi investor jangka menengah dan panjang. Kombinasi Bitcoin sebagai aset dominan dengan altcoin berpotensi memberikan keseimbangan antara stabilitas dan peluang keuntungan.
Peningkatan adopsi teknologi dan infrastruktur kripto di Indonesia turut mendukung pertumbuhan pasar, sekaligus mendorong kesadaran investor terhadap strategi yang lebih matang.