Saham

Taruh Fokus Investor: Deretan Saham Konglomerat Masih Murah Siap Diborong

Taruh Fokus Investor: Deretan Saham Konglomerat Masih Murah Siap Diborong
Taruh Fokus Investor: Deretan Saham Konglomerat Masih Murah Siap Diborong

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya menembus level 9.000 untuk pertama kalinya, didorong oleh saham-saham dari grup konglomerat besar. 

Tanpa kontribusi saham grup konglo, analis memperkirakan IHSG sebenarnya masih berada di kisaran 7.000, jauh di bawah level saat ini. Fenomena ini menegaskan betapa dominannya saham konglomerat dalam mendorong pasar modal Indonesia.

Saham-saham konglo mulai dari grup Prajogo Pangestu, Bakrie-Salim, hingga Haji Isam menjadi motor penggerak bursa sepanjang tahun lalu. Tren positif ini diproyeksikan berlanjut pada 2026, seiring dengan optimisme pasar terhadap pertumbuhan sektor usaha milik konglomerat. Banyak saham yang sudah melonjak ratusan bahkan ribuan persen, tetapi sebagian masih menawarkan valuasi menarik bagi investor.

Saham Konglomerat dengan Diskon Menarik

Meski banyak saham sudah terbang tinggi, sejumlah saham konglomerat masih dinilai murah jika dilihat dari rasio Price to Book Value (PBV). TOWR menempati posisi teratas dengan PBV 1,25 kali, jauh di bawah rata-rata lima tahun sebesar 3,60 kali, berarti saham ini diperdagangkan dengan diskon sekitar 65,3%. Peluang ini menjadi perhatian investor jangka panjang yang mencari nilai undervalued.

ICBP berada di urutan kedua dengan PBV 1,90 kali versus rata-rata lima tahun 3,02 kali, setara diskon 37,1%. ERAA memiliki PBV 0,75 kali dibanding rata-rata lima tahun 1,17 kali, atau diskon sekitar 35,9%. CTRA juga menunjukkan peluang menarik dengan PBV 0,67 kali versus rata-rata lima tahun 1,04 kali, berarti diskon 35,6%.

Saham dengan Diskon Sedang

INDF diperdagangkan di PBV 0,83 kali, lebih rendah dari rata-rata historis 1,10 kali, sehingga diskonnya sekitar 24,5%. UNIC mencatat PBV 0,70 kali dibanding rata-rata lima tahun 0,91 kali, setara diskon 23,1%. ADRO diperdagangkan di PBV 0,77 kali versus rata-rata lima tahun 0,96 kali, atau diskon sekitar 19,8%. Saham-saham ini masih memberikan potensi apresiasi bila kinerja perusahaan tetap solid.

AALI memiliki PBV 0,66 kali, sementara rata-rata lima tahun 0,74 kali, sehingga diskonnya sekitar 10,8%. MEDC mendekati valuasi normal dengan PBV 0,97 kali dibanding rata-rata lima tahun 1,02 kali, setara diskon 4,9%. Saham-saham ini cenderung lebih stabil, cocok bagi investor yang mengincar pertumbuhan moderat namun relatif aman.

Saham Mendekati Fair Value

ERAL menjadi saham yang paling tipis diskonnya, dengan PBV saat ini 1,03 kali dibanding rata-rata lima tahun 1,05 kali, atau hanya diskon 1,9%. Saham ini menunjukkan valuasi yang mendekati wajar, sehingga investor perlu menilai apakah potensi kenaikan masih cukup menarik. Grup konglomerat yang sahamnya sudah mendekati fair value biasanya mengalami pergerakan yang lebih moderat, tetapi tetap memberikan stabilitas bagi portofolio.

Kiat Investor Memilih Saham Konglomerat

Bagi investor yang ingin membeli saham konglomerat, melihat PBV relatif terhadap rata-rata historis lima tahun menjadi strategi penting. Saham dengan diskon besar, seperti TOWR dan ICBP, menawarkan potensi keuntungan jangka panjang, terutama jika fundamental perusahaan tetap kuat. Sedangkan saham dengan diskon tipis lebih cocok bagi investor yang mengutamakan stabilitas dan risiko lebih rendah.

Diversifikasi portofolio juga menjadi kunci untuk mengurangi risiko. Memadukan saham konglomerat undervalued dengan saham yang sudah mendekati fair value dapat menyeimbangkan potensi keuntungan dan keamanan investasi. Analisis tren sektor usaha konglomerat dan kinerja keuangan perusahaan harus tetap menjadi acuan utama sebelum memutuskan pembelian.

Prospek Saham Konglomerat di 2026

Tahun ini, saham-saham konglomerat diprediksi tetap menjadi motor penggerak IHSG. Dengan valuasi yang bervariasi dari diskon besar hingga mendekati fair value, investor memiliki banyak pilihan untuk menyesuaikan strategi dengan profil risiko masing-masing. Saham undervalued dapat memberikan peluang jangka panjang, sementara saham yang mendekati fair value bisa menjadi penopang stabilitas portofolio.

Dengan kombinasi peluang diskon, tren pasar yang positif, dan fundamental perusahaan yang relatif kuat, saham konglomerat tetap menarik untuk diamati. Investor sebaiknya tidak hanya mengikuti harga terkini, tetapi juga menilai rasio valuasi historis, tren sektor, dan prospek pertumbuhan agar keputusan investasi lebih tepat dan optimal.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index